Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 8 Mei 2017 | 07:14 WIB
  • Isu Pilkada DKI dan Demo Buruh Tak Pengaruhi Investasi

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Chandra G. Asmara
Isu Pilkada DKI dan Demo Buruh Tak Pengaruhi Investasi
Photo :
  • VIVA.co.id/Dusep Malik
Deputi Pengendalian Investasi BKPM Azhar Lubis.

VIVA.co.id – Di tengah perlambatan ekonomi dunia Presiden Joko Widodo terus mendorong agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di zona positif. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah salah satunya mempercepat proses perizinan investasi langsung di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Langkah tersebut dilakukan pemerintah tentunya atas dasar bahwa upaya mendorong pertumbuhan ekonomi saat ini hanya bisa dilakukan oleh peningkatan investasi, khususnya Foreign Direct Investment (FDI). Sebab, perlambatan ekonomi nyatanya telah menurunkan pendapatan dari ekspor nasional dan menggerus penerimaan pajak.

Namun, di tengah upaya mengejar pertumbuhan ekonomi tersebut stabilitas nasional terus diguncang isu SARA, Korupsi e-KTP, hingga ke persoalan buruh yang terus berulang setiap tahunnya. Sehingga, dikhawatirakan memengaruhi minat investasi masuk ke Indonesia.

Belum lagi, tidak sinkronnya antara kebijakan perizinan pemerintah pusat dan daerah secara terang-terangan telah membuat kekhawatiran investor semakin meningkat. Di mana saat ini dengan adanya Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) secara terpusat di BKPM, tidak banyak di ikuti komitmen daerah untuk ikut melaksanakannya.

Padahal, berdasarkan data BKPM hingga Maret 2017, komitmen investasi (sudah izin prinsip) yang berhasil dikumpulkan dari tahun ke tahun mencapai Rp4.200 triliun, sehingga jika terealisasi sepenuhnya tentu dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyerap banyak tenaga kerja serta mengurangi angka kemiskinan.

Untuk mengetahui perkembangan sejumlah realisasi investasi dan proyek investasi apa saja yang telah berminat masuk ke Indonesia, VIVA.co.id, mewawancarai Deputi Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis, akhir pekan lalu di ruang kerjanya. Berikut petikannya.
   
Bagaimana menurut Anda rangkaian Pilkada langsung saat ini pengaruhi minat investasi ke RI?

Begini, sebetulnya terus terang investor datang kemarin tidak ada yang tanya soal Pilkada, dari Italy contohnya baru saja bertemu dengan saya dan tak ada tuh tanya soal Pilkada, jadi biasa-biasa saja. Itu hampir begitu kalau ada Pilkada, ada tentunya pro dan kontra, ini tidak hanya khas kita, coba lihat pemilu presiden di AS keras juga, kita tidak sangka AS kaya gitu, selesai itu sudah, itu pun biasa-biasa saja. Toh ini akan berulang ada Pilkada serentak lagi pada Juli 2018 dan Pileg serta Pilpres 2019.

Jadi dari semua rangkaian itu kita mungkin akan terbiasalah, ternyata tidak ada apa-apanya dan berjalan biasa saja dan itu menandakan yang hangat hanya sebelum pencoblosan saja. Dan sekarang yang menang dan yang kalah sudah ketemu (Pilkada DKI Jakarta), kemudian ada pak Ahok dan Anies bertemua nyatakan apa programnya yang akan diakomodir di APBD-P, itu bagus. 

Dan, sekali lagi investor melihat investasi itu bukan sekarang, tapi melihat Indonesia dua hingga10 tahun ke depan, karena investasi yang mereka tanam itu jangka panjang. Dia bangun pabrik sekarang, produksi mereka 2-3 tahun mendatang. Dia melihat proyeknya 10-20 tahun lagi, jadi makanya perlu proyeksi-proyeksi dan pemerintah buat proyeksi lima tahun ke depan. 

Menurut Anda apakah dari semua rangkaian ini tidak ada kekhawatiran investor?

Oh khawatir itu pasti ada, khawatir rusuh pasti selalu ada, tapi mereka tidak ucapkan, hanya dalam hari mudah-mudahan tidak rusuh, dan ini tidak kejadian dan orang sekarang legalah, dan tidak takut ada anarkis, pemaksaan, eksodus, dan perusakan.

Termasuk demo besar kemarin tidak ada yang menahan investasi?

Demo besar selama itu tidak merusak itu biasa saja, kita dahulu demo buruh besar juga tuh, macet Jakarta tuntut upah tinggi, itu sudah biasa kita. Dan sekarang ini demo dalam sisi lain tapi sudah biasa asalkan tidak dengan merusak silakan saja, karena yang sibuk cuma Jakarta dan terfokus saja disatu titik sana, dan tidak ada seperti pondok indah, sehingga rasionalitas yang kita munculkan.

Selain itu, demo yang ada di Indonesia pun tidak seperti di Eropa, yaitu Jerman di mana kalau ada demo besar karyawan aktifitas ekonomi seperti Kereta Api, Bandara dan pertokoan lumpuh total. Sedangkan, demo kemarin bisa dilihat tidak adakan. Jadi yang saya maksudkan demo kita ini tidak menjadi satu masalah dan khas dari kita.

Selanjutnya... Kekhawatiran lain investor