Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 29 Oktober 2015 | 15:47 WIB
  • Industri Pengolahan Ikan Sarden 'Mati Suri'

  • Oleh
    • Rochimawati,
    • Arie Dwi Budiawati
Industri Pengolahan Ikan Sarden 'Mati Suri'
Photo :
  • ANTARA/Hafidz Mubarak A.
Pekerja mengeringkan ikan asin di wilayah kampung nelayan Muara Angke, Jakarta, Senin (3/8/2015). [Ilustrasi]

VIVA.co.id - Pengusaha mengeluhkan kekurangan pasokan bahan baku untuk industri pengolahan ikan nasional, seperti ikan sarden. Mereka pun menyebut industri pengolahan sarden tengah mengalami kesulitan, bahkan mati suri.


"Kami kekurangan pasokan sarden sejak tahun 2010," kata Ketua Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia (APIKI), Adi Surya, dalam acara Diseminasi Hasil-Hasil Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2015.

Adi mengatakan, pasokan ikan dari Selat Bali sudah sangat kurang dan membuat industri pengolahan ikan yang mengambil ikan dari sana, menjadi mati suri. Hal ini juga berlaku bagi industri pengolahan ikan di Bitung sehingga produsen terpaksa memasok dari luar Bitung, seperti Jakarta.

"Saat ini, perusahaan yang memproduksi ikan sarden kalengan sedang susah-susahnya dan mempertahankan tidak ada PHK," ucapnya.

Adi pun melanjutkan, pihaknya memang menyambut baik pengendalian impor produk perikanan dalam kemasan kaleng untuk melindungi industri pengolahanan perikanan dalam negeri.

Namun, dia pun meminta agar ada regulasi yang turut memperhatikan keberlangsungan hidup industri pengolahan dalam negeri. Adi pun meminta pemerintah mempertimbangkan impor ikan untuk bahan baku industri pengolahan perikanan dalam negeri.  "Saya berharap kebijakan impor jadi pilihan terakhir," kata dia.

Selain itu, Adi mengatakan bahwa produksi rata-rata industri pengalengan produk perikanan sebanyak 2 juta -3 juta ton per tahun. Ekspornya mencapai US$700 juta-US$800 juta per tahun. "Untuk tuna terbesar ke Amerika, sekitar 30 persen. Kalau sarden, ekspor hampir semuanya ke Afrika," ujar dia.