Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 17 November 2015 | 15:52 WIB
  • Menperin: Ini Cara Hindari Formalin pada Pengawetan Ikan

  • Oleh
    • Siti Nuraisyah Dewi,
    • Arinto Tri Wibowo
Menperin: Ini Cara Hindari Formalin pada Pengawetan Ikan
Photo :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
Menteri Perindustrian (Menperin), Saleh Husin

VIVA.co.id - Produksi ikan laut Indonesia yang melimpah harus diimbangi oleh pasokan es balok yang mencukupi. Pendinginan diperlukan untuk memperpanjang masa simpan sebelum ikan diolah lebih lanjut.


Menteri Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan tersedianya es balok turut mengurangi praktik penggunaan formalin. Sebab, kekurangan es balok menyebabkan kualitas ikan menurun dan tidak diterima oleh pabrik pengolahan ikan. Yang pada akhirnya, ikan dijual ke pasar sebagai ikan segar yang diawetkan dengan formalin.

"Jadi pabrik es balok ini memiliki efek berantai. Ikan yang didinginkan memiliki nilai lebih tinggi. Industri mendapat jaminan pasokan, dan kesehatan konsumen dilindungi," kata Saleh, dikutip dalam keterangan tertulisnya, Selasa, 17 November 2015. 

Adapun, berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, target produksi perikanan nasional dalam kurun lima tahun mendatang setiap tahun sebesar 20,05 juta ton yang terdiri dari 6,08 juta ton ikan tangkap dan 13,97 juta ton ikan budidaya, dengan Pertumbuhan domestik bruto, perikanan ditargetkan rata-rata tujuh persen setiap tahun hingga 2019.

Saat ini, terdapat 38 industri pengolahan ikan dengan kapasitas produksi sekitar 350 ribu ton per tahun dan tingkat utilisasi baru mencapai rata-rata 58 persen, dengan target ekspor rata-rata sebesar US$5 miliar setiap tahun.

"Tentunya untuk mencapai target ini, rantai pendingin seperti ketersediaan es balok mempunyai peran yang sangat besar," lanjut Saleh.

Dia memaparkan, pasokan es balok menjadi solusi bagi industri pengolahan ikan yang selama ini dihadapkan pada beberapa permasalahan. 

Antara lain terbatasnya suplai bahan baku yang berkualitas baik karena terbatasnya ketersediaan produk es balok untuk memperpanjang masa simpan hasil tangkapan nelayan selama proses penangkapan di laut dan dalam proses pengiriman dari tempat pendaratan sampai ke pabrik pengolahan ikan.

"Terobosan yang kami lakukan ialah memberikan bantuan mesin dan peralatan pabrik es balok berskala kecil dengan kapasitas 10 ton per hari," ujar Saleh. 

Kapasitas itu setara dengan 200 batang es balok dengan berat 50 kilogram per batang.

Bantuan mesin dan peralatan pabrik es balok di Sulawesi Tengah merupakan pabrik es balok ke-13 dari bantuan pabrik es balok yang pernah diberikan. Beberapa propinsi telah mendapatkan bantuan , antara lain Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara dan Maluku.

Saleh juga berharap, adanya sinergi antara instansi terkait tingkat pusat seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Pemerintah Daerah.

Saat ini sinergitas tersebut telah diimplementasikan. Kementerian Perindustrian memberikan bantuan mesin dan peralatan es balok, dan pemerintah daerah provinsi menyediakan bangunan dan ketersediaan listrik dan air, serta kementerian Perikanan bekerja sama dengan pemerintah daerah menyediakan fasilitas tempat pendaratan ikan.

"Kami juga berpesan kepada Kabupaten Donggala agar bertanggung jawab untuk menjamin ketersediaan jaringan listrik sehingga pabrik es balok dapat beroperasi secara kontinyu untuk memenuhi es balok di Kabupaten Donggala dan sekitarnya," ujarnya.