Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 16 Mei 2017 | 16:55 WIB
  • Kisah Manis Kerja Sama RI-Uni Eropa Atasi Kemiskinan

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim
Kisah Manis Kerja Sama RI-Uni Eropa Atasi Kemiskinan
Photo :
  • VIVA.co.id/Fikri Halim
Peluncuran Uni Eropa Blue Book 2017.

VIVA.co.id – Indonesia bersama dengan Uni Eropa, meluncurkan EU-Indonesia Blue Book 2017, yang merupakan laporan tahunan kerja sama pembangunan. Laporan ini menyajikan cerita sukses dari bantuan pembangunan yang diberikan oleh Uni Eropa, serta para negara anggota Uni Eropa untuk Indonesia di 2016.

Peluncuran itu diresmikan oleh Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Bappenas Kennedy Simanjuntak, Staf AhIi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sri Danti, dan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend. 

Dalam sambutannya, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Guerend mengatakan, kerja sama pembangunan merupakan sebuah penegasan dari komitmen kuat Uni Eropa daIam menghadapi dua dari tantangan terbesar dunia. 

"Yaitu menghapus kemiskinan dan mencapai pembangunan berkelanjutan," kata Vincent di Hotel Meridien, Jakarta, Selasa 16 Mei 2017.

Di Indonesia, ujar dia, pihaknya telah menyasar bidang hak asasi manusia, tata pemerintahan yang baik, pendidikan, kehutanan, dan penggunaan lahan, serta perubahan iklim. "Uni Eropa juga telah mendukung perdagangan, pembangunan ekonomi, dan pelayanan kesehatan,” ujar Vincent.

Di 2016, lanjut dia, Uni Eropa dan para negara anggota Uni Eropa adaIah pemberi dana bantuan pembangunan terbesar di dunia. Bantuan senilai 75,5 miliar euro diberikan ke sejumlah negara, di mana hal itu menunjukkan komitmen Uni Eropa mendukung pembangunan, khususnya pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals). 

"Uni Eropa, bekerja sama dengan Indonesia, secara aktif mempromosikan pembangunan di berbagai area melalui program bantuannya," kata dia.

Tema utama dari EU-Indonesia Blue Book 2017 adalah kesetaraan gender yang melambangkan dukungan Uni Eropa untuk pemberdayaan perempuan, baik secara ekonomi dan politik, serta perjuangan melawan kekerasan berbasis gender dan penerapan kebijakan berorientasi gender sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

“Kesetaraan antara perempuan dan laki-Iaki merupakan salah satu nilai mendasar Uni Eropa. Kedua belah pihak yakin kesetaraan gender seharusnya ada di hati masyarakat kita dan pemberdayaan perempuan meningkatkan atau mendorong keadilan sosial, pembangunan berkeianjutan, pertumbuhan ekonomi dan perdamaian," ujar Duta Besar Vincent Guérend.

Nilai kerja sama UE-Indonesia 2016 capai 30 juta Euro

Sementara itu, mewakili Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional (PPN), Deputi Pendanaan Bappenas, Kennedy Simanjuntak mengatakan bahwa nilai kerja sama antara pemerintah Indonesia dengan Uni Eropa mencapai 30 Juta Euro pada 2016.

"Karena, ini cukup lama, saya agak sedikit lupa. Tetapi, ini adalah yang terbesar untuk EU, Kira-kira, 30 juta Euro per tahun, persisnya saya lupa," ujar dia.

Di antaranya, kerja sama yang dilakukan sepanjang 2016, adalah di bidang kesehatan, pendidikan dan trade facility (fasilitas perdagangan). Sementara itu, untuk pembangunan infrastruktur, ujar Kennedy, lebih banyak dilakukan secara bilateral dengan negara-negara anggota Uni Eropa.

"Tetapi, dengan trade facility kita bisa berdiskusi langsung, bagaimana memasuki pasar Eropa, Dengan kerja sama ini, kita bisa meningkatkan kapasitas dialog. Sehingga, eksportir kita bisa untuk memahami pasar Eropa sekaligus," kata dia.