Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 16 Mei 2017 | 17:30 WIB
  • Chevron Kaji Ulang Proyek Migas di Laut Dalam RI

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Fikri Halim
Chevron Kaji Ulang Proyek Migas di Laut Dalam RI
Photo :
  • Getty Images
Chevron Profit

VIVA.co.id – PT Chevron Pacific Indonesia, menyatakan akan mengkaji ulang proyek-proyek minyak dan gas bumi di laut dalam Indonesia, yang masuk dalam Indonesia Deepwater Development tahap II.

Langkah itu dilakukan, karena pertimbangan berbagai hal terkait dengan keekonomian pengembangan lapangan migas terkait.

Senior Vice President Policy, Government And Public Affairs Chevron, Yanto Sianipar mengatakan, pihaknya tidak terburu-buru dalam mengembangkan proyek ini. Karena, dalam beberapa tahun terakhir ada kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah, salah satunya adalah skema kontrak Gross Split. 

Ia mengatakan, kelanjutan dalam berinvestasi tidak hanya dilihat dari sisi ketersediaan cadangan, melainkan dari aspek yang memengaruhi kepastian berusaha. 

"Kami melihat investasi di Indonesia dari seluruh sisi. Khususnya dari sisi kepastian, jadi bukan hanya satu, atau dua saja yang dilihat, tapi banyak hal," kata Yanto di kantornya, Selasa 16 Mei 2017. 

Paling utama, menurut dia, adalah dari sisi regulasi dan kepastian pelaksanaan dari Undang-undang Migas. Hal itu yang menjadi akumulasi dalam pelaksanaan kinerja perusahaan dan pertimbangannya dalam berinvestasi di Indonesia. 

Ia mengatakan, untuk IDD tahap I, yaitu di Lapangan Bangka, di Selat Makassar, produksi sudah mulai mengalir dengan produksi 100 juta kaki kubik per hari (mmscfd) dan kondensat empat ribu barel per hari (bph)

"Untuk tahap kedua sedang dalam proses karena ada opportunity (peluang) baru untuk buat proyek itu ekonomis," kata dia 

Ia menegaskan, pihaknya akan melakukan kajian ulang pada IDD tahap kedua dan seterusnya untuk lapangan Gendalo dan Gehem yang juga masuk dalam blok Ganal dan Rapak yang juga berlokasi di laut Selat Makassar. Hal ini juga akan menimbang kondisi harga minyak dunia hingga regulasi.

"Dengan kondisi harga minyak sekarang dan perubahan informasi yang kita punya, sehingga proyek tersebut dalam waktu dekat diharapkan bisa selesai studinya. studinya sedang dalam proses," ujar dia. 

Lebih jauh, ia menerangkan, modal perusahaan akan disesuaikan dengan peluang lapangan eksisting dan keekonomisannya.

"Untuk meningkatkan aplikasi teknologi misalnya, itu akan kita aktifkan, sehingga membutuhkan beberapa inisiatif yang bersifat membutuhkan modal. Kami bisa terus mengikuti perkembangan dan dinamika harga minyak dengan opportunity di lapangan," tuturnya. (asp)