Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 17 Juni 2017 | 21:56 WIB
  • Penambahan Rangkaian KA Jawa dan Sumatera Harus Prioritas

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Penambahan Rangkaian KA Jawa dan Sumatera Harus Prioritas
Photo :
  • ANTARA FOTO/Siswowidodo
Ilustrasi rangkaian kereta api.

VIVA.co.id – Pemerintah harus memprioritaskan penambahan rangkaian kereta api (rolling stock) di Jawa dan Sumatera untuk mencegah kemacetan dan kecelakaan di jalan raya yang terus meningkat.

Selain itu, penambahan ini juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan angkutan, sehingga kereta api benar-benar berperan sebagai moda angkutan publik massal, baik penumpang maupun barang (logistik).

"Saat ini utilisasi rel masih kurang dari lima persen untuk transportasi publik, sehingga perlu penambahan rolling stock dalam jumlah besar agar optimal, terutama di jalur utara, tengah dan selatan Jawa," kata anggota Komisi VI DPR Bambang Haryo Soekartono, dalam keterangannya, Sabtu, 17 Juni 2017.

Menurutnya, penambahan rolling stock jauh lebih mendesak dan efektif dibandingkan dengan program pembangunan light rapid transit (LRT) di 10 kota besar yang dicanangkan pemerintah.

Sebab, LRT hanya melayani penumpang di satu kota secara terbatas, sedangkan kereta api bisa mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar di ratusan kota yang dilaluinya sehingga ekonomi tumbuh.

Bambang mengungkapkan, LRT menelan investasi sangat besar, seperti proyek di Palembang, Sumatera Selatan, yang menghabiskan Rp10,9 triliun. Dana sebanyak ini bisa dipakai untuk menambah 150 rangkaian KA dengan asumsi satu set rolling stock seharga Rp70 miliar.

Dengan begitu, ia yakin tambahan kapasitas angkut hingga 150 persen bisa memecahkan problematika kemacetan di Jawa dan backlog di Sumatera, serta memperlancar transportasi logistik.

Bambang juga mengaku kecewa pemerintah justru mengalihkan penyertaan modal negara (PMN) rolling stock PT Kereta Api Indonesia (Persero) di Sumatera untuk proyek LRT Jabodetabek.

"Mengapa anggaran itu dialihkan untuk LRT. Ini diskriminatif karena seolah LRT Jakarta lebih penting dibandingkan Sumatera yang butuh tambahan rolling stock untuk angkutan penumpang dan logistik," ungkapnya.