Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 20 Juni 2017 | 12:44 WIB
  • Rumah Sakit Milik Negara Bersatu, Berobat Lebih Murah

  • Oleh
    • Siti Ruqoyah,
    • Fikri Halim
Rumah Sakit Milik Negara Bersatu, Berobat Lebih Murah
Photo :
  • VIVA.co.id / Fikri Halim
Menteri BUMN dalam MoU sinergi untuk pengelolaan Rumah Sakit

VIVA.co.id – Sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang rumah sakit telah membentuk Holding Rumah Sakit BUMN. Pertamedika Indonesia Healthcare Corporation (IHC) ditunjuk sebagai koordinator sejumlah rumah sakit pelat merah itu.

Hari ini, dilakukan Penandatanganan MoU sinergi untuk pengelolaan Rumah Sakit milik BUMN dengan Sinergi BUMN untuk utilisasi aset-aset belum dimanfaatkan (idle) milik BUMN itu agar menjadi aset produktif.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, sebagai perusahaan-perusahaan milik negara, seluruh rumah sakit BUMN haruslah bertanggung jawab kepada bangsa Indonesia.

"Karena BUMN bukan hanya memikirkan omzet dan keuntungan, tapi bagaimana menjaga aset dan keuntungan itu didapat," kata Rini di kantor Kementerian BUMN, Selasa 20 Juni 2017.

Menurut Rini, keuntungan memang harus dikejar oleh BUMN untuk kebutuhan perusahaan dapat memiliki keberlangsungan usaha. Meski demikian, ujar Rini, BUMN harus memberikan dukungan kepada lingkungan terutama masyarakat kurang mampu.

"Karena jangan kita sampai meninggalkan lingkungan kita dan masyarakat yang butuh dukungan kita. Karena mereka jadi tanggung jawab kita," ucap dia.

Saat ini, ada sebanyak 78 rumah sakit BUMN yang tersebar di Indonesia, yang menurut Rini, harus diberdayakan dalam sisi pelayanan agar memberikan pelayanan yang terbaik untuk bangsa dalam segala pelayanannya.

"Kalau masih ada yang belum, terus terang saya sedih, kenapa ini tidak bersatu saja (dengan holding)," jelas dia.

Direktur Utama Pertamedika IHC, Dany Amrul Ichdan mengatakan, banyaknya aset rumah sakit yang belum dimanfaatkan (idle), bisa dioptimalkan untuk membangun RS baru. Potensi itu akan dimanfaatkan untuk pengembangan setidaknya sebanyak 20 rumah sakit baru ke depannya.

"Kita target membangun banyak lagi rumah sakit, paling tidak kita harus ada tambahan 20 rumah sakit lagi. Lalu, Kedua program kerja untuk memperbaiki proses bisnis, agar biaya rumah sakit efisien, maka biaya obat-obatan juga harus lebih efisien," ujar dia.

Ia mengungkapkan pihaknya telah melakukan negosiasi dengan penyedia obat-obatan. Sehingga ada diskon di rumah sakit BUMN yang membuat harga lebih kompetitif dibanding rumah sakit swasta.

"Jadi kita kerjasama dengan misalnya kimia farma, dan juga kliniknya yang dikerjasamakan di IHC Group. Konsumen diupayakan tidak lari ke swasta. Harga obat IHC Group, akan mendapatkan harga obat yang lebih murah. Diskon yang terbesar itu bisa 60 persen. Sebagian memang harga e-catalog," ujar dia.