Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 17 Juli 2017 | 16:10 WIB
  • Penduduk Miskin RI Terbanyak Masih di Maluku dan Papua

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim
Penduduk Miskin RI Terbanyak Masih di Maluku dan Papua
Photo :
  • VIVAnews/Fernando Randy
Ilustrasi/Potret kemiskinan di Indonesia

VIVA.co.id – Ketimpangan yang tinggi antar-pulau masih menjadi Pekerjaan Rumah yang besar bagi pemerintah. Sebab, angka kemiskinan masih didominasi oleh penduduk di kawasan timur Indonesia. 

Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto, mengungkapkan hal ini terlihat dari persentase penduduk miskin Indonesia Maret 2017 yang didominasi oleh Indonesia bagian timur. Adapun persentase penduduk miskin tertinggi itu ada di Maluku dan Papua.

"Ketimpangan tinggi antar pulau dan ini menjadi PR besar. Persentase penduduk miskin terkecil menurut pulau ada di Kalimantan sebesar 6,25 persen dan tertinggi di Pulau Maluku dan Papua 21,45 persen," kata Suhariyanto di kantornya, Senin 17 Juli 2017.

Jika dilihat secara jumlah, penduduk miskin RI tertinggi ada di pulau Jawa yang sebesar 14,79 juta orang dan terendah ada di Kalimantan yang sebesar 0,99 juta orang. "Kalau soal jumlah, kita maklum konsentrasi penduduk miskin ada di Jawa karena Jawa ini sudah padat sekali," ujar dia. 

Suhariyanto menjelaskan, komposisi garis kemiskinan baik perkotaan atau pun pedesaan berada pada angka pengeluaran per kapita per bulan sebesar Rp374.478. Yang termasuk penduduk miskin, adalah penduduk dengan rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan tersebut. 

"Dan angka (pengeluaran per kapita) ini 73 persen disumbang oleh makanan. Maka dari itu, kita harus menjaga supaya harga bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi oleh penduduk miskin harus stabil. Kalau enggak akan berpengaruh terhadap peningkatan penduduk miskin," ujar dia. 

Terutama, lanjut dia, komoditas yang paling berpengaruh adalah beras dan rokok. "Komoditas yang paling berpengaruh adalah beras yang pengaruhnya untuk desa 26,46 persen dan kota 20,11 persen. Rokok 11,53 persen untuk desa dan 11,79 persen untuk kota," ujar Suhariyanto. (ren)