Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 18 Juli 2017 | 10:32 WIB
  • BI Sebut Utang Luar Negeri Pemerintah Bertambah

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Chandra G. Asmara
BI Sebut Utang Luar Negeri Pemerintah Bertambah
Photo :
  • REUTERS/Darren Whiteside/Files
Logo Bank Indonesia.

VIVA.co.id – Bank Indonesia mencatat, posisi utang luar negeri, atau ULN Indonesia pada Mei 2017, mencapai US$333,6 miliar, atau sebesar Rp4,36 triliun (kurs Rp13.091 per dolar AS), atau tumbuh 5,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data bank sentral menunjukkan, posisi ULN pemerintah meningkat. Sementara itu, ULN sektor swasta menurun.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menegaskan, posisi utang luar negeri Indonesia pada Mei masih relatif sehat. Meski demikian, bank sentral tak memungkiri, masih ada risiko yang harus diwaspadai, terutama dari perkembangan ULN sektor swasta.

“Hal ini, untuk memberikan keyakinan bahwa ULN dapat berperan secara optimal dalam mendukung pembiayaan pembangunan, tanpa menimbulkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas makro ekonomi,” kata Tirta, dikutip dari keterangan resminya, Selasa 18 Juli 2017.

Posisi ULN pemerintah pada Mei, tercatat sebesar US$168,4 miliar, tumbuh 11,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Posisi tersebut, menempatkan posisi utang pemerintah pada Mei mencapai 50,5 persen dari total keseluruhan utang luar negeri.

Sementara itu, ULN sektor swasta, tercatat US$165,2 miliar, atau turun 0,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tirta mengatakan, menurunnya posisi ULN lembaga keuangan yang mencakup bank maupun lembaga keuangan bukan bank yang menurun pada Mei 2017.

Posisi ULN swasta terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas, dan air bersih. Apabila dibandingkan dengan April lalu, pertumbuhan tahunan ULN sektor industri pengolahan dan sektor listrik, gas, dan air bersih mengalami peningkatan.

“Di sisi lain, ULN sektor keuangan dan sektor pertambangan masih mengalami kontraksi pertumbuhan,” katanya.

Berdasarkan jangka waktu asal, ULN jangka panjang dan jangka pendek mengalami peningkatan pertumbuhan. Posisi ULN jangka panjang mendominasi ULN Indonesia sebesar US$289,2 miliar, atau 86,7 persen dari total ULN. Sedangkan ULN jangka pendek, mencapai US$44,4 miliar, atau 13,3 persen dari total ULN. (asp)