Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 8 Agustus 2017 | 17:55 WIB
  • Pertamina Dapat Sinyal Hijau Garap 2 Ladang Migas di Iran

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Chandra G. Asmara
Pertamina Dapat Sinyal Hijau Garap 2 Ladang Migas di Iran
Photo :
  • ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi
Aktivitas di salah satu depo Pertamina

VIVA.co.id – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan telah menyelesaikan kunjungan kenegaraan ke Iran pada akhir pekan lalu. Selain hadir menggantikan Presiden Joko Widodo dalam seremonial kenegaraan, Luhut pun membawa dua misi khusus.

Pertama, melobi pemerintah Iran agar menunjuk PT Pertamina untuk mengelola dua lapangan minyak dan gas bumi Ab-Teymour dan Mansouri. Sementara misi yang kedua, menagih komitmen investasi Iran di sektor kelistrikan.

Usai menggelar rapat koordinasi, Luhut mengaku telah melakukan pembicaraan dengan pemerintah Iran terkait dengan pengelolaan dua blok lapangan tersebut. Meskipun sudah mendapatkan lampu hijau, namun dibutuhkan beberapa bulan lagi untuk mengetahui hasilnya.

“Ladang di Mansouri itu kapasitasnya 3,31 miliar barel sudah hampir selesai. Lapangan minyak yang kedua (Ab-Teymour) masih negoisasi. Itu masih butuh waktu empat bulan,” kata Luhut di Jakarta, Selasa 8 Agustus 2017.

Mantan Kepala Staf Kepresidenan itu mengaku optimistis, pengelolaan kedua lapangan blok migas di negara tersebut menjadi miliki perusahaan pelat merah nasional. Dengan kata lain, maka PT Pertamina pun akan ditunjuk langsung tanpa adanya tender terkait pengelolaan blok tersebut.

Sementara mengenai komitmen investasi, Luhut mengaku akan kembali melakukan pertemuan dengan Mapna Group, sebagai tindak lanjut atas komitmen yang telah tertuang dalam nota kesepahaman bersama PT Perusahaan Listrik Negara. Secara garis besar, tidak ada masalah.

“Minggu depan kami akan bertemu. Sejauh ini sudah tidak ada masalah lagi. PLN juga sudah oke,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Iran pun disebut tengah mempertimbangkan untuk menerima komoditas sawit Indonesia sebanyak satu juta ton per tahun. Hal ini dilakukan, tidak hanya untuk meningkatkan kerjasama bilateral kedua negara, namun memperluas pangsa pasar ekspor nasional.