Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 9 Agustus 2017 | 14:56 WIB
  • Alasan Orang Miskin RI Banyak, Meski Harga Pangan Turun

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim
Alasan Orang Miskin RI Banyak, Meski Harga Pangan Turun
Photo :
  • VIVAnews/Ikhwan Yanuar
Tempat tinggal warga miskin di Jakarta.

VIVA.co.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, ingin menyoroti lebih dalam mengapa tingkat kemiskinan di Indonesia turun melambat. Selain itu, gini rasio yang cukup stagnan juga tak luput dari sorotan pemerintah.

"Saya ingin soroti mengapa tingkat kemiskinan kita turunnya melambat, ketimpangan arahnya juga begitu, kita perlu waspada mengenai hal ini," kata Darmin di Hotel Westin, Jakarta, Rabu 9 Agustus 2017. 

Darmin mengatakan, pemerintahan saat ini sebetulnya telah berhasil memperlambat laju kenaikan harga pangan yang trennya mengalami kenaikan. "Yang cukup menarik harga pangan meningkat cukup pesat beberapa tahun terakhir, atau 7-8 tahun terakhir. Baru dua tahun terakhir kita bisa perlambat laju harganya," kata Darmin.

Sementara itu, Darmin melanjutkan, di sisi nilai tukar petani pada Juli 2017 juga tercatat turun 0,83 persen dibanding akhir 2016. Artinya, kata Darmin, naiknya beberapa komoditi harga pangan juga tak menguntungkan produsen pangan.

"Artinya perbaikan harga pangan kelihatannya tidak menguntungkan bagi penghasil pangan itu sendiri. karena mereka tidak menyetok, tidak menyimpan produknya. begitu panen jual. Itu barangkali satu faktor yang kita di pemerintahan kita ini suatu isu yang tidak konvergensi. Kita perlu cari solusi mengenai hal itu," kata dia.

Kemudian, lanjut Darmin, yang perlu dicatat mengenai perlambatan penurunan kemiskinan dan tingkat ketimpangan, adalah program bantuan sosial yang disalurkan. Ke depan pemerintah akan melakukan perbaikan penyaluran bantuan sosial.

"Hari-hari ini kita coba perbaiki penyaluran Rastra dan PKH (Program Keluarga Harapan), belum menyeluruh tapi sudah mulai kita ubah sasarannya, misalnya dari beras ke non tunai. Kita harus membuat lebih konvergen pada orang yang berhak. Kalau enggak berhasil maka penurunan kemiskinan dan ketimpangan makin lama makin sulit," ujar dia.

Dia pun meyakini, akan ada perbaikan jika beberapa faktor yang menjadi masalah lambatnya penurunan tingkat kemiskinan tersebut dapat diatasi. "Walaupun ada yang katakan gak percaya (tingkat kemiskinan) menembus angka 10 persen ke bawah," ujar Darmin.

Mengutip data BPS, Jumlah orang miskin yang ada di Indonesia per Maret 2017 sebanyak 27,77 juta atau 10,64 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Angka ini meningkat 6.900 orang dibandingkan dengan September 2016 yang sebesar, 27,76 juta. Sedangkan, jika dibandingkan dengan Maret 2016 hanya turun tipis sebesar 234,19 ribu atau dari 28,01 juta orang.

Di sisi lain, Gini Ratio pada Maret 2017 adalah sebesar 0,393. Angka ini juga menurun tipis sebesar 0,001 persen dibandingkan dengan Gini Ratio September 2016 yang sebesar 0,394.