Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 14:07 WIB
  • Jusuf Kalla: Hanya Indonesia yang Ribut-ribut Soal Garam

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Yasir (Makassar)
Jusuf Kalla: Hanya Indonesia yang Ribut-ribut Soal Garam
Photo :
  • VIVA.co.id/Muhammad Yasir
Wapres Jusuf Kalla di Harteknas 2017.

VIVA.co.id – Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali menyinggung kelangkaan garam di Indonesia. Ia menyebut, hanya Indonesia yang menjadi satu-satunya negara yang ribut hanya karena persoalan garam.

"Kita harus fokus pada dasar kebutuhan ekonomi. Tapi kita ribut hanya karena garam. Tidak ada negara yang ribut hanya karena garam selain di Indonesia," ucap Jusuf Kalla pada pembukaan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2017 di Makassar, Kamis, 10 Agustus 2017.

Indonesia saat ini memang sedang mengalami kelangkaan garam, baik untuk dikonsumsi maupun keperluan industri. Hal itu membuat harga garam jenis apapun naik berkali lipat di pasaran dan memaksa pemerintah mengimpor garam.

Menurut Kalla, setiap tahun penduduk Indonesia bertambah tiga juta orang. Bahkan mencapai 3,5 juta orang. Hal itulah, kata dia, yang membuat meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap garam. 

"Karena penduduk tumbuh 1,4 persen (260 juta penduduk) setiap tahun. Artinya, kita butuh beras lebih banyak lagi, butuh gula lebih banyak lagi, butuh garam lebih banyak lagi. Di lain sisi kita kekurangan lahan akibat penduduk. Lahan berkurang akibat rumah lebih banyak, butuh pabrik lebih banyak, butuh jalan lebih banyak," tuturnya. 

Kalla menjelaskan terkait masalah garam, perilaku konsumsinya identik dengan kemiskinan. Semakin kecil tingkat kemampuan ekonomi, semakin tinggi kebutuhan garamnya. 

"Padahal garam hanya (persoalan) kecil. Gula, makin tinggi ekonominya, makin tinggi kebutuhan gulanya. Garam, makin miskin, makin tinggi kebutuhan garamnya. Karena makan ikan asin, makan indomie. Jadi kalau kita berselisih soal garam, artinya kita menyiksa orang kecil. Padahal laut (Indonesia) begitu banyak," tegas Kalla.

"Kita berpikir apa gunanya kita bikin banyak universitas, apa gunanya kita banyak memberikan beasiswa, apa gunanya lembaga-lembaga kalau kebutuhan dasar itu masih diperdebatkan terus-menurus, di bangsa yang sudah merdeka 70 tahun. Pernah kah Anda mendengar orang Malaysia bertengkar karena garam. Thailand, orang dari negara lain. Hanya Indonesia yang berselisih soal garam," ucapnya menambahkan.