Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 16:10 WIB
  • Jurus Menteri Basuki Bangun Infrastruktur Atasi Ketimpangan

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim
Jurus Menteri Basuki Bangun Infrastruktur Atasi Ketimpangan
Photo :
  • VIVA.co.id/Dusep Malik
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono.

VIVA.co.id – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono, mengatakan, kementeriannya sangat ingin mengatasi ketimpangan yang ada di Indonesia. Baik dari desa ke kota atau per daerah.

Basuki menuturkan, kementeriannya telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengatasi ketimpangan yang ada di Indonesia. Tentunya hal itu tak terlepas pada pembangunan infrastruktur.

"Karena menurut teori ekonomi, begitu infrastruktur itu digenjot, memang kesenjangan bisa diatasi. Kesenjangan itu bisa melebar kalau program-program yang kecil-kecil ini tidak dilakukan lebih gencar lagi," kata Basuki di Gama Tower, Westin Hotel Jakarta, Kamis 10 Agustus 2017.

Di antara program kecil untuk menyisir ketimpangan tersebut, Basuki mengatakan, bakal memprioritaskan pada pembangunan jembatan gantung, irigasi, air bersih, hingga perumahan. 

"Itu yang harus, mungkin 2018 ini diperbesar di situ. Jadi, makanya kita perlu irigasi dan yang kecil-kecil tadi itu," ujar dia. 

Sementara itu, mengenai pembangunan perumahan, Basuki mengatakan, akan terus melihat potensi kekurangan rumah di berbagai daerah di Indonesia. Dia mengatakan, hal ini akan sejalan dengan pembangunan irigasi yang dikerjakan oleh petani, penyediaan air bersih, jalan-jalan untuk konektivitas desa, hingga jembatan gantung.

"Kemarin Pak Presiden minta 2018 untuk perumahan, setelah Beliau melihat Banjarmasin, Riau, Tangerang, kita tambah lagi. Karena itu yang mengurangi kesenjangan," ujarnya. 

Basuki pun melanjutkan, kementeriannya tidak akan menggunakan APBN terlalu besar untuk pembangunan jalan tol. Saat ini, pembangunan jalan tol akan diprioritaskan melalui swasta atau BUMN.

"Karena jalan tol dan lain-lain yang besar-besar itu kebanyakan menggunakan BUMN dan swasta. Kalau untuk tol kecil banget (pakai APBN). Misalnya Solo-Surabaya, APBN cuma berapa kilometer, yang loan China itu. Yang lainnya investasi," ujar dia.