Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Sabtu, 12 Agustus 2017 | 14:36 WIB
  • Industri Konstruksi Indonesia Harus Ramah Lingkungan

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Industri Konstruksi Indonesia Harus Ramah Lingkungan
Photo :
  • VIVAnews/Fernando Randy
Ilustrasi pembangunan gedung bertingkat.

VIVA.co.id – Industri konstruksi Indonesia berkembang pesat dengan pertumbuhan yang diperkirakan mencapai rata-rata 6,9 persen per tahun antara 2017 dan 2021. Dari empat juta lebih bangunan yang ada di Indonesia sekitar 1.227 bangunan berada di Jakarta.

Kendati demikian, hanya 140 bangunan atau 0,035 persen, yang memiliki sertifikasi bangunan hijau (green certified buildings). Sementara itu, pemerintah membutuhkan dana sebesar US$423 miliar (Rp5.557 triliun) untuk sektor konstruksi.

Di sisi lain, Indonesia telah mencanangkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2020, dengan membuat peraturan yang lebih tegas bagi industri konstruksi sebagai harapan meningkatkan konstruksi berkelanjutan (sustainable construction).

Hal ini memperlihatkan potensi yang dimiliki Indonesia yang perlu dimanfaatkan untuk membuat kota-kota menjadi hijau.

Direktur Utama Zak Exhibitions & Conferences, Syed Zakir Ahmed mengatakan, saat ini, pengurangan konsumsi energi dan polusi udara dalam ruangan (indoor air pollution) merupakan dua sasaran utama dari industri konstruksi yang bertekad untuk dicapai di setiap proyek.

Selain menjadi faktor pelengkap serta estetika gedung, fasad bangunan sekarang dipandang penting sebagai aspek yang membantu keseluruhan struktur bangunan, dan menjadi lebih responsif terhadap lingkungan serta hemat energi.

Fasad bangunan

Fasad bangunan, yang merupakan bagian dari selubung gedung, merupakan komponen terpenting dari sebuah gedung. Fasad bangunan tersebut memainkan peran penting untuk melengkapi bentuk struktur dan menentukan dampak visual terhadap lingkungan perkotaan.

“Kami siap menjadi acuan kebijakan bagi solusi cerdas, penggunaan efektif dan efisien dari sumber daya yang tersedia, menemukan solusi bagi masalah terkait keselamatan kebakaran dan konstruksi bangunan hijau di Indonesia," kata Zakir Ahmed, dalam keterangannya, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Pada saat transformasi prinsip hijau yang berkelanjutan (sustainable green principles) terwujud, maka industri konstruksi Indonesia harus memiliki pandangan baru dan inovasi dalam mendesain dan membangun fasad bangunan.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam kontruksi fasad bangunan yang berkelanjutan (sustainable fasade construction) adalah perlindungan terhadap kebakaran. Sistem pemadam kebakaran beserta pengujian dan penerapan yang memadai merupakan kunci kinerja improvisasi pembangunan fasad bangunan.

"Kami akan berdiskusi yang melibatkan pengambil keputusan yang tepat mengenai evolusi rancangan fasad bangunan, high performance glass untuk fasad bangunan, serta fasad bangunan yang berkelanjutan," papar dia.