Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Minggu, 13 Agustus 2017 | 15:00 WIB
  • 2020, Potensi Ekonomi Digital RI Diprediksi Rp1.800 Triliun

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Dinia Adrianjara
2020, Potensi Ekonomi Digital RI Diprediksi Rp1.800 Triliun
Photo :
  • Dinia/VIVA.co.id
Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo, Semuel Pangerapan.

VIVA.co.id – Perkembangan pasar digital ekonomi di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun demikian hingga kini start up lokal buatan anak negeri masih terbilang jauh tertinggal, dibandingkan buatan asing yang menguasai hampir separuh pasar dalam negeri.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika dari Kementerian Komunikasi dan Informatika, Semuel Pangerapan mengatakan, pada  2020 mendatang pasar ekonomi digital Indonesia diprediksi akan mencapai Rp1.800 triliun. Untuk menggarap potensi tersebut, dibutuhkan dukungan serius baik itu dari pemerintah maupun pihak terkait.

"Pasar sebesar itu siapa yang mau garap kalau bukan kita yang ambil. Kita ingin bagaimana menumbuhkan aplikasi lokal di Indonesia. Gerakan ini harus ditularkan sampai kita jadi tuan di rumah sendiri, jangan sampai pasar itu diambil oleh orang lain," kata Semuel di Gedung SMESCO, Jakarta Timur, Minggu 13 Agustus 2017.

Dia menjabarkan, transaksi digital e-Commerce di Indonesia saat ini baru sekitar lima persen yang menggunakan produk lokal, sementara 95 persen sisanya menggunakan produk asing. Karena itu dibutuhkan literasi langsung dan sektoral untuk mengetahui problematika yang dihadapi masyarakat.

"Kami jadi ke daerah-daerah memberi pelatihan bagaimana cara menjual lewat online, lalu bagaimana supaya produk itu laku secara online. Misalnya cara packaging, bagaimana mereka menggunakan teknologi supaya barang mereka layak untuk didistribusikan," ujarnya.

Sementara itu jika dilihat dari sektoral, Semuel mengungkapkan saat ini ada beberapa sektor yang perlu diberi perhatian khusus agar terjangkau dengan kemampuan digital, misalnya, transportasi, pariwisata, pertanian, kesehatan dan pendidikan.

"Kita masuk per sektoral, apa yang dibutuhkan oleh sektor itu sehingga bisa bertransformasi ke digital. Kita harus pahami problem apa yang mereka hadapi, proses bisnis apa yang perlu diperbaiki," ujarnya.