Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 15 September 2017 | 08:04 WIB
  • Neraca Perdagangan Agustus Diproyeksi Bakal Surplus

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Chandra G. Asmara
Neraca Perdagangan Agustus Diproyeksi Bakal Surplus
Photo :
  • ANTARA Foto/ Ho Arya
Bongkar Muat Pelabuhan BICT Pelindo

VIVA.co.id – Neraca perdagangan Indonesia Agustus 2017 diperkirakan akan kembali mencetak surplus, setelah pada Juli lalu sempat mengalami defisit untuk pertama kalinya di tahun ini. Membaiknya harga komoditas global, menjadi sentimen positif terhadap kinerja ekspor pada pertengahan tahun.

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro memproyeksikan, neraca perdagangan Indonesia pada bulan kedelapan tahun ini mencetak surplus sebesar US$734 juta. Nilai ekspor dan impor Agustus masing-masing akan tumbuh di kisaran 14 persen secara year on year dan 11,4 persen secara year on year.

“Ini diperoleh dari kenaikan harga komoditas, dan meningkatnya kegiatan investasi,” kata Andry, melalui pesan singkatnya, Jakarta, Jumat 15 September 2017.

Sementara itu, Ekonom SKHA Institute for Global Competitiveness Eric Sugandi pun menilai, surplus yang mampu dicapai pada Agustus berada di bawah US$1 miliar. Meskipun diperkirakan ada kenaikan ekspor non minyak dan gas karena membaiknya harga komoditas, namun kinerja impor diperkirakan tidak akan bergeliat seperti Juli.

“Karena banyak perusahaan yang telah membeli kebutuhan bahan baku di Juli untuk memulai operasional normal setelah lebaran. Akibatnya di Agustus, importasi bahan baku dan barang modal tidak sebesar Juli,” kata Eric.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik, nilai impor pada Juli tercatat sebesar US$13,89 miliar, atau naik 39 persen secara bulan ke bulan. Tingginya impor tersebut, disebabkan karena kenaikan impor bahan baku penolong dan barang modal yang cukup signifikan.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance Bhima Yudhistira Adhinegara memproyeksikan, surplus neraca perdagangan Agustus berada di kisaran US$650-US$780 juta. Proyeksi tersebut, dipicu oleh kinerja ekspor yang mengalami peningkatan, dan kinerja impor yang kembali normal.