Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 15 September 2017 | 16:43 WIB
  • Mengintip Biaya Investasi Bank Buat Uang Elektronik

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Chandra G. Asmara
Mengintip Biaya Investasi Bank Buat Uang Elektronik
Photo :
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja

VIVA.co.id – Keputusan Bank Indonesia mengizinkan lembaga keuangan penerbit kartu elektronik memungut biaya isi ulang uang elektronik menuai kritik masyarakat. Meski demikian, bank penerbit mengaku miliki alasan tersendiri memungut biaya isi ulang kartu elektronik.

Pertama, biaya tersebut akan dipergunakan perbankan memelihara alat pembaca, atau reader uang elektronik di sejumlah gerbang tol, maupun biaya operasional dalam rangka menjaga Anjungan Tunai Mandiri, agar tetap optimal dalam melayani nasabah.

Namun, berapa besar sebenarnya investasi yang digelontorkan bank untuk membuat uang elektronik?

Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja tak memungkiri, bank masih mengalami kerugian dari penerbitan uang elektronik. Jahja menyebut, nilai investasi yang dikeluarkan untuk membuat satu kartu Flazz umum sebesar Rp33 ribu, atau lebih tinggi dibandingkan harga jual sebesar Rp25 ribu.

Dari jumlah tersebut, BCA harus mengeluarkan Rp10 ribu untuk biaya kartu, ditambah dengan biaya percetakan yang mencakup tenaga kerja kontrak maupun starter pack sebesar Rp10 ribu, dan biaya distribusi melalui pemasaran produk langsung kepada konsumen sebesar Rp13 ribu.

“Untuk desain umum, total biaya kartu Flazz itu Rp33 ribu,” kata Jahja melalui pesan singkatnya kepada VIVA.co.id, Jakarta, Jumat 15 September 2017.

Biaya mencetak desain umum Flazz BCA, pun tidak jauh berbeda dengan biaya cetak dengan model yang berbeda, yang biasanya diperuntukkan untuk berbagai komunitas. Meskipun tanpa biaya pemasaran produk, namun nilai investasi yang dikeluarkan untuk satu buah kartu tetap Rp33 ribu.

Jahja pun tak memungkiri, pengenaan biaya pengisian ulang untuk mengkompensasi kerugian yang selama ini dialami perbankan dari penerbitan uang elektronik. Namun, terlepas dari hal itu, BCA tetap mengalokasikan biaya dari pungutan tersebut untuk pemeliharaan infrastruktur pendukung.

“Paling tidak, untuk cover biaya operasionalnya ya,” katanya. (asp)