Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 2 Oktober 2017 | 15:18 WIB
  • Inflasi Terendah di Indonesia, Daya Beli Warga Depok Turun?

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Fikri Halim
Inflasi Terendah di Indonesia, Daya Beli Warga Depok Turun?
Photo :
  • REUTERS/Beawiharta
Pemerintah tidak akan menerbitkan kebijakan yang menggerus daya beli masyarakat hingga di penghujung tahun.

VIVA.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, daerah Depok mencatatkan inflasi terendah pada September 2017. Inflasi Depok tercatat sebesar 0,01 persen, sama dengan daerah Mamuju, Sulawesi Barat.

Rendahnya inflasi Depok yang notabene daerah penyangga Ibu Kota memunculkan pertanyaan. Apakah daya beli masyarakat Depok menurun pada September lalu? 

Menjawab hal tersebut Kasubdit Statistik Harga Konsumen BPS, Efliza, mengatakan, rendahnya inflasi itu karena turunnya harga sejumlah barang di Depok. Tidak hanya produk pangan, tapi juga barang bangunan, bahkan semen menyumbang deflasi tertinggi yaitu 0,07 persen. 

"Di Depok, yang mengalami inflasi itu ada sebanyak 71 komoditas, kalau deflasi ada sebanyak 56 komoditas, yang paling tinggi karena deflasi semen," ujarnya kepada VIVA.co.id, Senin 2 Oktober 2017. 

Sejumlah komoditas pangan juga menyumbang deflasi alias mengalami penurunan. Seperti bawang putih, cabai merah dan minyak goreng masing-masing 0,04 persen. Kemudian telur ayam ras dan bawang merah masing-masing 0,03 persen, semangka dan cabai rawit masing-masing 0,02 persen. 

"Jadi inflasi 0,01 persen di kota Depok itu, karena adanya tarik menarik komponen deflasi dan komponen inflasi itu, nanti ada keseimbangan di tengah-tengahnya," tambahnya. 

Sementara itu Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pihaknya tidak bisa menyimpulkan kalau rendahnya inflasi yang terjadi di Kota Depok lantaran daya beli yang menurun.

"Harus dipilah, dilihat komoditas apa yang berpengaruh, harus melacak ke dalamnya, tapi bukan karena daya beli lah, kan konsumsi rumah tangga kita lumayan lah," tambahnya. (one)