Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 2 Oktober 2017 | 15:34 WIB
  • Daya Beli Petani Membaik

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim
Daya Beli Petani Membaik
Photo :
  • ANTARA FOTO/Yusran Uccang
Ilustrasi Petani.

VIVA.co.id – Nilai Tukar Petani atau NTP pada September 2017 dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 102,22 atau naik 0,61 persen dibanding NTP bulan sebelumnya.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di perdesaan. Selain itu untuk menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, NTP pada September ini menunjukkan angka yang cukup menggembirakan. Sebab,  semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

"NTP kita lihat pada september 2017 ini 102,22. Yang mengembirakan, NTP pada September 2017 ini lebih bagus dibandingkan NTP pada September 2016, jadi kita harapkan ini akan melampaui garis merahnya. Jadi selama dua bulan berturut-turut NTP ini tinggi dibandingkan dua bulan yang sama pada tahun sebelumnya," kata Suhariyanto di kantornya, Senin 2 Oktober 2017.

Ia menjelaskan, pada September 2017 ini, kenaikan NTP tertinggi terjadi di Sumatera Selatan sebesar 2,16 persen. Sementara NTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami penurunan terbesar dibandingkan dengan NTP Provinsi lainnya yakni turun sebesar 0,95 persen.

"NTP berdasarkan subsektor seluruhnya mengalami kenaikan kecuali untuk holtikultura dan peternakan. Untuk tanaman pangan misalnya, naik karena ada kenaikan harga indeks yang diterima petani, untuk gabah, ubi kayu dan ubi jalar. NTP Holtikultura itu menurun, karena harga barang mewah turun, juga kol, kubis, cabai rawit, itu turun," kata dia.

Sementara itu, ia mengatakan NTP perkebunan yang mengalami kenaikan itu, lantaran adanya kenaikan harga yang diterima petani untuk komoditas karet, tembakau dan kelapa sawit.

"Nah, kalau NTP Peternakan yang alami penurunan ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani alami penurunan karena beberapa komoditas yang berpengaruh yaitu karena sapi potong, ayam ras pedaging dan domba. Sementara itu untuk NTP perikanan semuanya naik, baik untuk perikanan tangkap atau perikanan budidaya," tutur dia.