Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 3 Oktober 2017 | 12:38 WIB
  • Ritel Melemah, Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi RI

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Chandra G. Asmara
Ritel Melemah, Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi RI
Photo :
  • diverseeducation.com
Kantor Bank Dunia

VIVA.co.id – Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5,1 persen, dari yang sebelumnya 5,2 persen. Meski demikian, Bank Dunia tetap meyakini, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan akan tetap berada di kisaran 5,3 persen.

Keputusan tersebut sejalan dengan konsumsi sektor swasta, yang meskipun tumbuh cukup baik, belum terakselerasi. Kondisi itu ditambah dengan konsumsi pemerintah pada kuartal kedua mengalami kontraksi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Konsumsi tumbuh, tapi tidak terakselerasi. Penjualan ritel lemah,” kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, Rodrigo Chaves, di Jakarta, Selasa 3 Oktober 2017.

Meskipun kontribusi konsumsi masih konstan, Bank Dunia meyakini pembentukan modal tetap bruto atau investasi akan menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan tahun ini. Namun, harus diakui bahwa perekonomian Indonesia saat ini masih dalam masa transisi reformasi yang dilakukan pemerintah.

“Perekonomian masih menyesuaikan diri dengan reformasi baru-baru ini. Sementara itu, dampak pertumbuhan membutuhkan waktu untuk terealisasi,” katanya.

Terlepas dari hal itu, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan lebih baik dibandingkan tahun ini. Kondisi tersebut didukung faktor eksternal yang mendukung, serta konsumsi domestik yang mulai pulih. 

“Reformasi perekonomian juga akan terus berlanjut, dan secara bertahap mulai memberikan dampak,” katanya.

Bank Dunia memperkirakan, konsumsi swasta tahun depan akan semakin menguat seiring dengan kenaikan upah riil dan peningkatan lapangan kerja. Sementara itu, investasi swasta akan mendapatkan keuntungan dari penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang akan berdampak pada penurunan biaya pinjaman. (art)