Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 6 Oktober 2017 | 18:32 WIB
  • Cadangan Devisa RI Terus Cetak Rekor, Kini Rp1.747 Triliun

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Chandra G. Asmara
Cadangan Devisa RI Terus Cetak Rekor, Kini Rp1.747 Triliun
Photo :
  • Chandra Gian Asmara/VIVA.co.id
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo

VIVA.co.id – Bank Indonesia melaporkan, posisi cadangan devisa Indonesia akhir September 2017, mencapai US$129,4 miliar, atau lebih tinggi dibandingkan posisi akhir Agustus 2017, yang hanya mencapai US$128,8 miliar, atau Rp1.747,2 triliun (kurs Rp13.503 per dolar AS). Dalam beberapa bulan terakhir, cadangan devisa terus mencetak rekor.

Gubernur BI Agus Martowardojo menegaskan, posisi cadangan devisa yang terus mencetak rekor menunjukkan kondisi makro ekonomi yang terus membaik. Bahkan, prospek pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini diperkirakan jauh lebih baik.

“Terutama dari sisi investasi bangunan, non bangunan, kinerja ekspor, semua menunjukkan perbaikan. Penjualan ritel menunjukkan kondisi yang baik,” kata Agus, saat ditemui di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat 6 Oktober 2017.

Berdasarkan catatan bank sentral, peningkatan cadangan devisa akhir September dipengaruhi penerimaan devisa yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa hasil ekspor minyak dan gas bagian pemerintah, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta hasil lelang surat berharga negara BI valuta asing,

“Penerimaan devisa tersebut melampaui kebutuhan devisa, terutama untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan SBBI valas jatuh tempo,” jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman.

Posisi cadangan devisa pada akhir September 2017 tersebut, kata Agusman, cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor, atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

“BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan,” jelasnya. (asp)