Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 10 Oktober 2017 | 12:01 WIB
  • Tol Laut Sisakan PR Ketimpangan Perdagangan Timur-Barat RI

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim
Tol Laut Sisakan PR Ketimpangan Perdagangan Timur-Barat RI
Photo :
  • VIVA.co.id/Tudji Martudji
KM Caraka Jaya Niaga III-32, kapal tol laut, sesaat sebelum berlayar perdana di Dermaga Jamrud Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur.

VIVA.co.id – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, disparitas harga yang sudah turun antara wilayah timur dan barat Indonesia tak cukup hanya dipenuhi melalui program tol laut. Melainkan program pendukung yaitu jembatan udara.

Selama program tol laut berjalan, Budi mengatakan penurunan harga terjadi pada beberapa komoditas dengan rata-rata 20 hingga 40 persen. Ke depannya, semangat tol laut dan jembatan udara harus bisa menghidupkan ekonomi wilayah setempat.

"Keberadaan tol udara atau jembatan udara diharap dapat menggerakkan ekonomi daerah sehingga tak hanya membawa barang menuju daerah yang jauh tetapi juga mengangkut kembali barang barang (dari timur ke barat)," kata Budi di acara Forum Perhubungan di Red Top Hotel, Jakarta, Selasa 10 Oktober 2017.

Selama adanya tol laut yang dijalankan sejak tahun lalu dan jembatan udara yang baru berjalan sekitar dua bulan, Menhub menyebut belum ada barang dari Papua atau wilayah timur lainnya yang dibawa ke wilayah barat Indonesia.

"Untuk ke Papua kami harus jujur belum ada barang yang kita angkut kembali. ini satu PR tertentu bagi kita untuk membuat jembatan udara lebih baik," kata dia.

Untuk itu, fokus ke depannya persoalan ini tidak saja mengurangi disparitas harga atau memastikan harga-harga bahan pokok stabil di wilayah timur tersebut.

"Tapi, adalah bagaimana mendorong, atau memberi kesempatan bagi saudara- saudara kita untuk mengisi flight ship itu kembali ke barat," kata dia.

Ia mengatakan, konsepnya adalah trade follow the flight dan trade follow the ship. Artinya perdagangan dapat berjalan dengan tol laut atau pun jembatan udara.

"Tol laut adalah satu konsep trade follow the ship dengan adanya ship ke Indonesia timur kita harapkan ikan, tepung tapioka, kayu, kerajinan tangan, rumput laut itu dikonsolidasikan untuk kembali dipasarkan ke Surabaya dan untuk diekspor. nah ini banyak persoalan yang timbul dan tampaknya kita butuh memberikan trigger agar pengusaha-pengusaha di bagian timur mau memanfaatkan itu," jelasnya.