Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 11 Oktober 2017 | 06:41 WIB
  • Wajarkah Tarif Murah Taksi Online?

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar
Wajarkah Tarif Murah Taksi Online?
Photo :
  • Dok. TAM
Toyota Avanza. Foto ilustrasi taksi online.

VIVA.co.id – Perkembangan bisnis angkutan berbasis Aplikasi terus meningkat saat ini. Penggunaannya yang mudah dan dan murah terus digaungkan para pemain di bisnis tersebut. Benarkah hal tersebut?

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengakui, tidak terbantahkan lagi bahwa penggunaan angkutan berbasis aplikasi seperti taksi online mudah dilakukan. Ditambah lagi perkembangan teknologi yang semakin maju saat ini. 

"Teknologi digital memang memberikan kemudahan," ujarnya ketika berbincang dengan VIVA.co.id Rabu 11 Oktober 2017. 

Namun menurutnya, kalau soal murah apalagi sampai tidak wajar harganya, hal  ini perlu dipertanyakan. Perlu ada transparasi perhitungan harga, sehingga pengguna tau berapa sebenarnya tarif murni yang diberlakukan. 

"Sebetulnya berapa biaya yang wajar jika transportasi online dijalankan apa adanya tanpa subsidi dan gimmick marketing?" ujarnya.  

Tanpa adanya subsidi dan gimmick marketing menurutnya, tak mungkin tarif taksi online bisa menjadi sangat murah. Hal ini yang harus diatur, karena tidak adil bagi pebisnis di bidang yang sama. 

"Pertanyaannya jika taksi online menjalankan bisnis dengan subsidi tidak wajar untuk memenangkan persaingan seharusnya bisa dianggap sebagai praktik bisnis yang tidak sehat," tambahnya.

Di Indonesia lanjutnya, perlu ada upaya untuk mengaudit model bisnis semacam ini.  Sebab, pada kenyataannya di luar negeri tarif taksi online tak banyak beda dengan taksi resmi. 

Justifikasi formal dari pemerintah mengenai praktik bisnis yang tidak sehat kata dia adalah hal yang salah. Publik yang merupakan konsumen dinilai perlu dididik untuk memahami mengenai bisnis ini. Karena sejatinya, tarif murah bukan semata mata karena teknologi digital. 

"Pilihannya adalah mendidik masyarakat untuk lebih sadar dan peduli terhadap sikap dan perilaku mereka terkait taksi online. Bukankah konsumen taksi online itu kelas menengah,” kata dia.