Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 11 Oktober 2017 | 12:49 WIB
  • Jepang Incar Tiga Sektor Investasi di Indonesia

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Fikri Halim
Jepang Incar Tiga Sektor Investasi di Indonesia
Photo :
  • Fikri Halim/VIVA.co.id
Dirjen KPAII dari Kementerian Perindustrian, Harjanto.

VIVA.co.id – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto hari ini menerima kunjungan Japan International Cooperation Agency (JICA) yang diwakili oleh Chief Representative Naoki Ando. Dalam pertemuan singkat itu, pihak JICA memaparkan potensi industri Indonesia yang sangat potensial.

Direktur Jenderal Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII), Harjanto mengatakan, JICA menyampaikan maksud ingin meningkatkan daya saing industri Indonesia. Selama ini, kata dia, JICA telah melakukan studi yang berfokus pada tiga sektor industri, yaitu otomotif, elektronik dan industri pengolahan makanan.

"Nah tiga sektor ini dianggap bisa menjadi champion lah untuk menggerakkan sektor industri ke depan tentunya dia melihat daya saing kita terhadap beberapa negara ASEAN, terhadap Thailand, Malaysia, Korea dan sebagainya," ujarnya usai bertemu pihak JICA di Kementerian Perindustrian, Rabu 11 Oktober 2017. 

Dia mengatakan bahwa dari studi yang dilakukan oleh Jepang ini perlu suatu kebijakan khusus untuk meningkatkan daya saing industri Indonesia yang perlu dilakukan pemerintah. Hal itu dapat dilakukan dari sisi pemanfaatan peluang dan rantai pasok.

"Mereka intinya menyampaikan kepada Pak Menteri bahwa nanti dalam studi ini mereka akan berfikir dalam konteks penerapan industri, pop industrial revolution, yang Industry 4.0 itu. itu melihat kira-kira sektor-sektor apa saja dan industri mana saja yang bisa didorong ke arah sana," ujarnya.

Indeks daya saing global RI, sambung Harjanto memang telah meningkat dari peringkat 41 ke 36. Namun, peningkatan ini dirasa belum cukup jika melihat potensi Indonesia yang cukup besar. 

"Kita harus meningkatkan, me-review beberapa policy dari pada sektor industri ini karena memang untuk me-leverage. Artinya kesiapan kita menghadapi perkembangan dunia manufaktur  yang ada sekarang, persaingan global yang sekarang. Sehingga dengan leverage  yang lebih baik, kita berharap nanti investasi akan datang," tambahnya. (ren)