Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 12 Oktober 2017 | 16:30 WIB
  • BKPM: Akses Wisata Sulit, Investor Mikir ke Sumatera Barat

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Chandra G. Asmara
BKPM: Akses Wisata Sulit, Investor Mikir ke Sumatera Barat
Photo :
  • VIVA.co.id/Moh Nadlir
Kepala BKPM, Thomas Trikasih Lembong

VIVA.co.id – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong, mengklaim, minat investor menanamkan modalnya pada sektor pariwisata di wilayah Sumatera Barat cukup tinggi. Meski demikian, sejauh ini belum ada minat konkret para penanam modal berinvestasi di wilayah tersebut.

“Kalau Sumatera Barat, saya akui (investor) masih dalam tahap eksplorasi untuk mengerti bentuk dan konfigurasi wilayahnya, kulinernya, fesyennya, dan lain-lain. Tapi, Padang sudah terkenal,” kata Lembong, saat ditemui di kawasan BSD, Tangerang, Kamis 12 Oktober 2017.

Lembong memandang, keindahan alam di wilayah Sumatera Barat memang tidak kalah dengan wilayah lainnya di Indonesia. Namun, akses menuju lokasi potensial tersebut yang masih sulit, menjadi alasan wisatawan masih menahan diri untuk melancong ke Sumatera Barat.

“Minat sangat tinggi, tapi kami tidak ada barangnya. Alam yang indah, tidak ada kafe atau jalan gimana? Jadi, memang untuk garap peluang itu butuh investasi dari kawasan pariwisata,” katanya.

Pada 15-17 Oktober mendatang, mantan menteri perdagangan itu pun akan mengajak para investor melihat profil destinasi wisata di kawasan tersebut dalam ajang Forum Regional Investment Forum. Ini merupakan bentuk komitmen pemerintah menarik investasi asing terhadap sektor pariwisata.

Berdasarkan data otoritas investasi selama periode 2010-2016, realisasi investasi di sektor pariwisata tumbuh rata-rata 20 persen per tahun, dan telah menyerap setidaknya 221 ribu tenaga kerja. Pada semester pertama tahun ini, realisasi investasi pariwisata mencapai US$929,1 juta atau setara Rp12,4 triliun.

“Kalau pertumbuhannya terus seperti ini, akan menjadi sektor yang sangat besar," ujarnya.