Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 1 November 2017 | 21:38 WIB
  • Pengusaha Yakin Industri Ritel Offline Tak Akan Mati

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Putri Firdaus
Pengusaha Yakin Industri Ritel Offline Tak Akan Mati
Photo :
  • Antara/Wahyu Putro
Usaha ritel besar

VIVA – Ritel online kian menjamur, dan kehadirannya dianggap sebagai salah satu faktor meredupnya industri ritel konvensional. Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia, Roy Nicholas Mandey, optimistis bahwa ritel offline tidak akan mati dengan kehadiran ritel online.

Menurut dia, sektor ritel offline masih mendominasi. Dia mengatakan, di Amerika industri e-commerce hanya menggerus ritel offline sebesar 12 persen. Sementara di China sektor ritel offline terdampak sekitar 11 persen.

"Dengan kata lain yang namanya belanjaan offline ada yang enggak bisa dilakukan di online, makanan grocery, aksesori itu harus coba di offline, ritel enggak akan mati selagi kebutuhan masyarakat masih dipenuhi pasar fisik," ujar Roy saat ditemui di kawasan Harmoni, Jakarta, Rabu, 1 November 2017.

Hal senada juga diungkapkan oleh CEO Sogo Department Store, Handaka Santosa. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh konsumsi domestik sehingga masih ada peluang untuk mempertahankan ritel konvensional.

"Kalau dicermati lebih dalam pertumbuhan ekonomi dikendalikan konsumsi domestik dan sebetulnya bisnis ritel enggak ada matinya selagi kita tahu apa yang dibutuhkan konsumen," kata Handaka pada kesempatan yang sama.

Menurut Roy dan Handaka, yang penting saat ini adalah perlakukan yang sama dari pemerintah terhadap ritel online dan offline. Perlu diberikan peraturan yang jelas mengenai keberadaan ritel online agar tidak merugikan pihak lain.

"Kita minta supaya ritel offline dan online harus diperlakukan sama jangan sampai kita menunggu dan menunggu sehingga online sangat pesat, tidak ada regulasi, masih RPP (rancangan peraturan pemerintah). Jadi kita kalah saing bukan karena produk, servis atau harga, tapi karena regulasi," ujar Roy. (mus)