Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 2 November 2017 | 22:47 WIB
  • Meski dalam Tekanan, Pertamina Bisa Cetak Laba Rp26 Triliun

  • Oleh
    • Daurina Lestari,
    • Fikri Halim
Meski dalam Tekanan, Pertamina Bisa Cetak Laba Rp26 Triliun
Photo :
  • Antara/ Fanny Octavianus
Gedung Pertamina

VIVA – PT Pertamina berhasil mencatatkan laba US$1,99 miliar atau Rp26,8 triliun (kurs Rp13.500) di tengah berbagai tantangan dan tekanan yang dihadapi perusahaan selama 2017. Pendapatan Pertamina hanya naik 18 persen, yakni dari US$26,62 miliar menjadi US$31,38 miliar.

Hal ini disebut lantaran adanya amanat pendistribusian BBM penugasan dengan harga yang tidak berubah. Sebagaimana diketahui, harga BBM yang diatur pemerintah di antaranya yaitu premium penugasan, solar bersubsidi, dan minyak tanah.

Direktur Utama Pertamina, Elia Massa Manik mengatakan, perseroan secara maksimal melakukan langkah-langkah penghematan dari pengadaan di sektor hulu dan hilir, tanpa mengganggu operasional dan tidak mengurangi kualitas.

"Pertamina masih tetap bisa mencatatkan laba, di tengah penugasan dalam penyediaan BBM bagi masyarakat di seluruh Indonesia, dengan harga sesuai ketetapan pemerintah,” kata Massa di Jakarta, Kamis 2 November 2017.

Ia menyebut, berbagai peningkatan kinerja operasi dan efisiensi dapat menahan laju peningkatan harga pokok penjualan, dan pengeluaran operasional hanya di tingkatan 27 persen, sehingga Pertamina masih mampu mencatat laba. Hal itu dicapai di saat harga minyak mentah Indonesia naik sekitar 30 persen pada 2017 dan harga BBM penugasan tetap.
 
Massa menambahkan, apabila mengacu pada formula penghitungan harga BBM, kinerja keuangan Pertamina lebih baik. Pendapatan bisa mencapai US$32,8 miliar dan pendapatan bersih US$3,05 miliar.

Ditekankannya, selisih pendapatan tersebut telah dikembalikan sebagai kontribusi Pertamina kepada masyarakat, untuk menutup selisih harga jual BBM sebesar US$1,42 miliar atau sekitar Rp19 triliun.

"Ini belum termasuk kontribusi dalam bentuk PPN (pajak pertambahan nilai) dan PBBKB (pajak bahan bakar kendaraan bermotor). Sesungguhnya nilai tersebut sangat dibutuhkan Pertamina untuk investasi di sektor hulu, kilang, dan proyek-proyek strategis lainnya," kata dia.