Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 6 November 2017 | 15:48 WIB
  • Penyebab Konsumsi Rumah Tangga Kuartal III Loyo

  • Oleh
    • Dedy Priatmojo,
    • Chandra G. Asmara
Penyebab Konsumsi Rumah Tangga Kuartal III Loyo
Photo :
  • VIVAnews/Anhar Rizki Affandi
Gedung kementerian Keuangan

VIVA – Kontribusi konsumsi rumah tangga sepanjang kuartal tiga tahun ini tercatat hanya mampu tumbuh 4,93 persen. Realisasi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan konsumsi rumah tanggap pada kuartal tiga tahun lalu yang mencapai 5,01 persen.

Lantas, apa yang menjadi penyebab konsumsi rumah tangga kuartal tiga melambat?

Direktur Perencanaan Makro dan Analisis Statistik Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti menilai, melambatnya konsumsi rumah tangga kuartal tiga dikarenakan pergeseran perayaan hari lebaran ke kuartal dua.

"Sedikit melambat, karena sudah lewat. Sementara tahun lalu, di bulan Juli ada lebaran. Tambahan konsumsi di kuartal tiga terlihat sedikit, karena base di tahun lalu agak tinggi karena ada lebaran," kata Amalia melalui pesan singkatnya kepada VIVA di Jakarta, Senin 6 November 2017.

Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto dalam kesempatan berbeda merinci sejumlah faktor yang menyebabkan konsumsi rumah tangga tumbuh melambat. Misalnya, seperti kecenderungan masyarakat yang memilih menyimpan uangnya di perbankan.

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan, jumlah rekening simpanan nasabah dengan saldo di atas Rp2 miliar per Agustus 2018 mencapai 246.100 rekening dengan nilai mencapai Rp2.435 triliun. Jumlah simpanan tersebut, naik 1,3 persen dibandingkan periode akhir 2016 yang hanya 242.940 rekening.

"Jadi ada kecenderungan kelompok menengah ke atas menahan belanja," kata Kecuk, sapaan akrab Suhariyanto.

Selain itu, otoritas statistik mencatat adanya pergeseran konsumsi rumah tangga. Buktinya, komponen konsumsi restoran dan hotel selama kuartal tiga naik menjadi 5,52 persen, dari yang sebelumnya 5,01 persen serta transportasi dan jasa komunikasi naik menjadi 5,86 persen.

"Peran media sosial menunjukan trend wisata dengan tarif yang tidak begitu mahal, dan ini akan memengaruhi life style konsumen ke depannya," katanya. (mus)