Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 November 2017 | 10:40 WIB
  • Ritz Carlton Riyadh, Penjara Mewah Pangeran Arab

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar
Ritz Carlton Riyadh, Penjara Mewah Pangeran Arab
Photo :
  • REUTERS/Faisal Al Nasser.
Ritz Carlton Riyadh.

VIVA – Pada pukul 11 malam Sabtu pekan lalu, para tamu yang menginap di Hotel Ritz Carlton Riyadh, Arab Saudi, dibangunkan secara kasar oleh para petugas keamanan. Mereka yang mayoritas pengusaha dan konsultan bisnis di kumpulkan di lobi hotel lengkap dengan tas yang dibawanya. 

Dilansir dari The Guardian, Selasa 7 November 2017, tidak ada yang tahu kenapa para tamu dikumpulkan. Mereka pun akhirnya masuk ke dalam bus untuk dipindahkan ke hotel lain di ibu kota Arab Saudi tersebut. Hotel itu pun dikosongkan. 

Jelang tengah malam sebuah bus pun tiba. Belasan pangeran dan para pejabat pemerintahan Arab turun dari bus tersebut. Beberapa bus pun terus berdatangan sepanjang malam itu. 

Fajar pun datang, dan tercatat sekitar lebih dari 30 tokoh senior di Arab Saudi termasuk pangeran, pengusaha kakap, menteri, dan mantan menteri 'dikunci' di hotel tersebut. Mereka menjadi tahanan kerajaan untuk menjalani pemeriksaan terkait kasus korupsi. 

Penahanan di hotel bintang lima ini menjadi sorotan publik. Hal ini menimbulkan kesenjangan di Arab Saudi, mengingat para bangsawan tersebut tidak ditahan di penjara, seperti warga lainnya yang mendapatkan tuduhan serupa. 

Penangkapan yang diputuskan oleh Raja Salman melalui ahli warisnya Muhammed bin Salman (MBS), dikatakan sebagai salah satu ambisi putra mahkota untuk memberantas korupsi. Meskipun, hal ini dinilai berisiko karena menjerat beberapa tokoh-tokoh Arab yang paling berpengaruh di dunia. 

Memasukan seseorang ke penjara bukanlah hal yang mudah di Arab Saudi, apalagi seorang tokoh dan bangsawan. Hal itu bisa dianggap penghinaan dan bisa merusak ikatan yang telah terjalin dengan pemerintah. 

"Dia (MBS) tidak bisa memasukan mereka ke dalam penjara. Jadi ini (Hotel) jadi ini solusi paling bermartabat yang bisa dia lakukan," ujar seorang pejabat senior Kerajaan Arab Saudi. (hd)