Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 8 November 2017 | 17:26 WIB
  • Skenario RI Jadi Negara Maju di 2045

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Fikri Halim
Skenario RI Jadi Negara Maju di 2045
Photo :
  • raudhatul zannah/viva
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Bambang Brodjonegoro.

VIVA – Menteri Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengungkapkan strategi Indonesia, agar bisa menjadi negara maju pada 2045.

Ia menegaskan, pada saat ini, Indonesia masih berada kategori negara dengan pendapatan menengah bawah. 

"Dari income per capita, Indonesia masuk kategori lower middle income country, kondisi ini tidak selamanya. Kita semua punya keinginan bahwa Indonesia jadi negara maju yang salah satu kriterianya masuk high income country," kata Bambang di JCC, Senayan, Rabu 8 November 2017.

Bambang pun optimistis, pada 100 tahun kemerdekaan RI diharapkan dapat Indonesia bisa berubah sebagai negara maju dengan pendapatan per kapita yang tumbuh tinggi. Apalagi, ada beberapa skenario yang akan dilakukan pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut

"Di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia lima persen tiap tahun sampai 2045. Dalam waktu 28 tahun itu saja kalau konsisten pertahankan pertumbuhan ekonomi rata lima persen, maka Indonesia akan naik kelas menjadi high income di tahun 2038-2039," ujar dia.

Artinya, sambung Bambang, pada 2045, Indonesia sudah bisa masuk pada kategori negara maju dengan pendapatan US$20 ribu per kapita. Sedangkan pada kondisi saat ini, pendapatan per kapita Indonesia hanya berkisar di angka US$3.600 hingga US$3.700 per kapita. 

"Tapi kita liat di 2045, ketika penduduk Indonesia 320 juta, maka itulah yg akan terjadi di 2045," kata dia.

Untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi di level lima persen bukanlah tanpa tantangan, apalagi di tengah kondisi ekonomi global yang juga melambat saat ini. Karena itu, menurutnya, Indonesia perlu memiliki terobosan 

"Yang namanya reformasi struktural harus banyak aspek, bagaimana tingkatkan kapasitas SDM, dorong labor market, tingkatkan teknologi yg lebih tinggi, hidupkan manufaktur, dan perbaikan logistik. Tetapi, ada satu yang terpenting dari semua itu kita harus bangun infrastruktur," tambahnya.