Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 10:01 WIB
  • Kembangkan Ekonomi Syariah di RI Masih Sulit

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Chandra G. Asmara
Kembangkan Ekonomi Syariah di RI Masih Sulit
Photo :
  • Dok. Bank Indonesia
Indonesia Shari'a Economic Festival 2017.

VIVA – Pagelaran Indonesia Shari’a Economic Festival 2017 telah secara resmi dibuka. Ini merupakan perhelatan ke empat yang dilakukan Bank Indonesia untuk meningkatkan pemahaman serta keterlibatan berbagai segmen masyarakat terhadap ekonomi dan keuangan syariah nasional.

Meski demikian, pengembangan sistem ekonomi dan keuangan berbasis syariah yang dilakukan cenderung terlambat. Sebagai salah satu negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia justru kalah dibandingkan dengan negara muslim lainnya dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah.

“Memang kita punya keterlambatan dalam ekonomi syariah,” kata Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sambutan pembukaan ISEF 2017 di Grand City Convention Centre, Surabaya, Jawa Timur, Kamis 9 November 2017

Wapres mengatakan, sistem keuangan syariah di Indonesia hanya mencapai lima persen, atau lebih rendah dari Malaysia yang sudah mencapai 22 persen. Bahkan jika dibandingkan dengan negara non muslim seperti Inggris, pengembangan sistem keuangan syariah domestik pun masih kalah.

“Di London walaupun bukan negara Islam, tapi mereka memakai sistem syariah. Karena dalam pengalaman berbagai krisis ekonomi, sistem ekonomi Islam tidak pernah mengalami krisis,” jelasnya.

Gubernur BI Agus Martowardojo dalam kesempatan yang sama mengungkapkan, Indonesia masih memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekonomi dan sistem keuangan syariah. Hal ini di dukung dengan industri halal nasional yang semakin bergeliat dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, potensi tersebut sampai saat ini masih belum teroptimalisasi dengan baik. Indonesia tercatat saat ini masih menjadi importir produk industri makanan halal terbesar ke empat di dunia, dan menjadi pasar yang besar bagi produk wisata, industri obat, kosmetik halal, serta fesyen syariah global.

“Kami tentu tidak menginginkan Indonesia terus menjadi negara pengimpor produk halal, karena akan memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan posisi neraca pembayaran Indonesia,” katanya.

Dengan potensi yang begitu besar, maka BI pun ingin agar Indonesia bisa swasembada dalam memproduksi produk halal, serta berperan besar dalam industri halal global. Apalagi, industri halal global diperkirakan akan terus tumbuh hingga US$6,38 triliun pada 2021  mendatang.

“Potensi yang besar ini perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan ekonomi Indonesia. Kita perlu mengakselerasi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah,” kata Agus.

Sebagai informasi, ISEF 2017 merupakan salah satu kegiatan ekonomi dan keuangan syariah terbesar di Indonesia yang mengintegrasikan pengembangan sektor keuangan dan sektor riil. Pada pagelaran tahun ini, ISEF mengankat tiga pilar ekonomi pengembangan ekonomi syariah.

Mulai dari pemberdayaan ekonomi syariah, peningkatan efisiensi keuangan syariah untuk mendukung pengembangan usaha syariah, dan penguatan riset dan edukasi, termasuk sosialisasi dan komunikasi. Ini merupakan pilar yang telah ditekankan Presiden Joko Widodo.