Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 15 November 2017 | 14:27 WIB
  • Perhitungan Inflasi dari Penyederhanaan Golongan Listrik

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Fikri Halim
Perhitungan Inflasi dari Penyederhanaan Golongan Listrik
Photo :
  • VIVA.co.id/Diki Hidayat
Petugas penampungan pengungsi korban banjir bandang Kabupaten Garut menunjukkan meteran listrik setelah aliran listrik di tempat itu diputus PLN pada Rabu, 30 November 2016.

VIVA – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama dengan PT PLN berencana menyederhanakan golongan pelanggan listrik rumah tangga non-subsidi mulai dari golongan 900 VA tanpa subsidi, 1.300 VA, 2.200 VA, dan 3.300 VA. 

Penyederhanaan yang awalnya akan dinaikkan dan ditambah dayanya menjadi 4.400 VA, berubah menjadi dinaikkan dayanya ke 5.500 VA. Meski demikian, hingga saat ini pemerintah maupun PLN memastikan tidak ada kenaikan tarif untuk proses penyederhanaan ini.

Lantas, bagaimana pengaruhnya terhadap inflasi jika kebijakan ini dilakukan? 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suhariyanto menyatakan, pihaknya masih mengkaji bagaimana pengaruh penyederhanaan golongan listrik ini terhadap inflasi. Meskipun, kebijakan ini dinilai masih sebatas wacana.

"Masih wacana kan, kan ini (penyederhanaan) belum ini. BPS masih mempelajari dulu, tetapi bahwa sumbangan listrik ke inflasi itu ada. Ini kan, baru wacana dan mudah-mudahan tidak (pengaruh)," kata Suhariyanto di kantornya, Rabu 15 November 2017.

Di tempat yang sama, Deputi bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Yunita Rusanti mengatakan, jika sambungan daya masyarakat naik, tentunya akan menyebabkan kenaikan tarif, atau pun konsumsi dan berpengaruh kepada inflasi. Namun, masih akan dilihat berapa komposisi rumah tangga yang mengalami pergeseran ke daya 5.500 VA tersebut.

"Dalam hitungan pun kami melihat berapa besar komposisi rumah tangga dengan daya sekian, dan daya sekian," ujarnya.

Dia pun mengungkapkan, kontribusi kenaikan tarif listrik terhadap inflasi cukup tinggi yang berada pada angka 2,5 sampai dengan 3 persen. 

"Kalau bisa sih, ini kan tarif enggak naik, tetapi dari sisi bobot akan memengaruhi pergeseran jumlah rumah tangga. Kalau dilakukan bertahap kan lebih baik," ujarnya. 

Meskipun tarif tidak naik, menurutnya, konsumsi listrik sendiri akan memberikan pengaruh terhadap inflasi. Sebab, BPS menghitung inflasi dari total pengeluaran masyarakat untuk memperoleh listrik, termasuk proses instalasi listrik dalam tahap penyederhanaan ini.

"Segala pengeluaran akan memengaruhi (inflasi). Kami dapat data, berapa konsumen data yang menggunakan listrik, itu semua dari PLN," ungkap dia.