Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 15 November 2017 | 19:46 WIB
  • Kawasan Ekonomi Khusus Palu Ditawarkan ke Investor Korsel

  • Oleh
    • Dusep Malik
Kawasan Ekonomi Khusus Palu Ditawarkan ke Investor Korsel
Photo :
  • ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Kunjungan Presiden Korea Selatan

VIVA – Kedutaan besar RI untuk Korea Selatan menawarkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu kepada sejumlah investor asal ‘Negeri Ginseng’ itu. Pemerintah juga mengiming-imingi investor dengan sejumlah fasilitas seperti fiskal dan nonfiskal.

Upaya tersebut dilakukan oleh Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, di depan 60 investor asal Korea Selatan dalam acara Central Sulawesi Investment Business Forum 2017 di Seoul, Selasa 14 November 2017.

Menurut Umar, penawaran tersebut cukup menarik bagi pengusaha asal Korea Selatan, terlebih Kawasan Ekonomi Khusus Palu memiliki lokasi strategis yang menghubungkan Asia Timur dengan Australia.  

“Pengembangan infrastruktur kawasan merupakan salah satu prioritas utama pemerintah Indonesia saat ini. Investor Korsel diharapkan dapat mengambil peran dalam hal tersebut,” kata Umar dalam keterangan tertulisnya, yang diterima VIVA, Rabu 15 November 2017.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola menambahkan bahwa KEK Palu merupakan KEK pertama yang diresmikan oleh pemerintah pada 27 September 2017 dari total 11 KEK yang sedang dibangun di Indonesia.

“Adanya KEK Palu diharapkan dapat berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan lebih cepat tercapai,” tuturnya.

Adapun sektor yang ditawarkan di KEK Palu antara lain industri pengolahan hasil perkebunan dan pertanian, industri galangan kapal, industri hilir logam, dan infrastruktur pendukung (pelabuhan, energi, water supply, dan waste treatment).

Saat ini, Jawa masih menjadi destinasi favorit investor Korea Selatan. Dari total realisasi investasi selama 2014 hingga kuartal III-2017 tercatat 57 persen atau US$4,8 miliar ditanamkan di Jawa. Sementara itu, di kawasan timur Indonesia hanya kurang dari 10 persen dari total investasi mereka. (art)