Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 27 November 2017 | 12:19 WIB
  • Kadin: RI Masih Tergantung Sektor Jasa dan Rentan Krisis

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim
Kadin: RI Masih Tergantung Sektor Jasa dan Rentan Krisis
Photo :
Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Rosan P. Roeslani (tengah)

VIVA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan, hingga kuartal III-2017, sektor jasa masih menjadi andalan pertumbuhan ekonomi. Padahal, sektor jasa memiliki daya serap tenaga kerja yang rendah dan memiliki karakteristik yang lebih berorientasi pada urban area serta kawasan penopang.

Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, hal itu berbeda dengan karakter industri manufaktur yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi serta dapat dibangun di mana saja sesuai dengan potensi daerah.

"Artinya industri lebih memiliki potensi sumbangsih bagi pemerataan pembangunan, menggerakkan ekonomi masyarakat hingga menggenjot ekonomi nasional," ujar Rosan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema "Membangun Industri Berkelanjutan", di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin 27 November 2017.

Menurutnya, sektor jasa sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa kedalaman struktur ekonomi nasional masih menyisakan kerentanan terhadap krisis. Idealnya, dia melanjutkan, industri harus menjadi sektor andalan dengan ditunjang oleh sektor jasa, pertanian, dan investasi.

"Karena itu, seluruh pemangku kepentingan ekonomi perlu menyatukan pandangan dan upaya untuk mengembalikan sektor industri sebagai motor pembangunan," ujarnya.

Dia menjelaskan, kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto Indonesia mengalami penurunan dibandingkan era 1990-an dan awal 2000-an. Peranan sektor industri khususnya manufaktur disebut tidak lagi menyentuh angka ideal sebagai mana periode tersebut.

Rosan mengatakan, ada dua persoalan mendasar yang membutuhkan solusi terarah. Pertama, adalah kedalaman struktur industri dan ekonomi nasional, lalu yang kedua adalah menciptakan pembangunan industri yang berkelanjutan.

"Kalau kami lihat pada 2001, industri itu kontribusinya ke PDB kurang lebih 29 persen. Sekarang 2016 itu hanya 20,51 persen. Walaupun di 2017 Insya Allah sudah membaik, tetapi yang terjadi memang selama 10 tahun lebih adalah deindustrialisasi," ujarnya.

"Bukan berarti industri kita tidak tumbuh, tapi pertumbuhan itu lebih lambat dibanding sektor-sektor lainnya," tutur dia.