Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 18:22 WIB
  • Natal dan Tahun Baru Diperkirakan Tak Buat Inflasi Meroket

  • Oleh
    • Dusep Malik
Natal dan Tahun Baru Diperkirakan Tak Buat Inflasi Meroket
Photo :
  • Fikri Halim/VIVA.co.id
Kepala BPS Suhariyanto.

VIVA – Badan Pusat Statistik memperkirakan kondisi ekonomi Indonesia sepanjang Desember 2017 tidak menciptakan dorongan terhadap inflasi yang tinggi. Bahkan, inflasi Desember 2017 diperkirakan tak lebih dari 0,42 persen.

Pada pekan-pekan akhir Desember terdapat momen perayaan Natal serta Tahun Baru 2018.

Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto, mengatakan, secara tahunan memang permintaan masyarakat diperkirakan mencapai puncaknya pada Desember dan tren itu selalu berulang setiap tahunnya.

Namun, lanjut dia, kondisi pada tahun ini agak sedikit berbeda dari biasanya. Sebab, sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah untuk menjaga stabilnya harga pangan yang selama ini menyumbang besar inflasi terus dilakukan.

"Untuk perkiraan Desember kami bisa bercermin dari capaian November yang inflasinya jauh lebih rendah dari periode yang sama tiga tahun lalu, artinya ada upaya pemerintah dan akhir tahun bisa terkendali," tutur Suhariyanto di kantornya, Senin 4 Desember 2017.

Ia mengungkapkan, untuk Desember 2017, tekanan inflasi masih dirasakan dari beberapa komoditas bahan pangan, seperti cabai merah dan beras. Dua komoditas ini sumbangan terhadap inflasinya cukup besar, namun terus dikendalikan.

"Beras masih naik tapi tipis, hanya karena dia sumbangannya besar jadi terlihat. Lalu, untuk cabai merah, baiknya konsumsinya dikurangi bareng-bareng yuk, jadi semakin terkendali harganya," tutur Kecuk panggilan akrabnya.

Adapun perkiraan inflasi Desember dan keseluruhan 2017, Kecuk menilai masih di kisaran target pemerintah bahkan lebih rendah yaitu 3 persen dan di bawah 4 persen.

"Jadi untuk Desember saya rasa masih di bawah 0,42 persen, jadi kalau tahun kalendernya hingga November sebesar 2,87 persen, maka sepanjang tahun kira-kira masih di tiga persen," ujarnya. (art)