Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Senin, 4 Desember 2017 | 18:31 WIB
  • Beda Pembangunan Tol Era SBY dan Jokowi

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Yandi Deslatama (Serang)
Beda Pembangunan Tol Era SBY dan Jokowi
Photo :
  • ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Presiden Tinjau Pembangunan Tol Bocimi

VIVA – Pemerintahan Presiden Joko Widodo berkomitmen membangun 1.000 kilo meter jalan tol baru di seluruh Indonesia hingga 2019. Komitmen tersebut dibuktikan dengan masifnya pembangunan yang dilakukan saat ini. 

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan, Sugihardjo menegaskan komitmen tersebut di hadapan ribuan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin, Banten, Senin 4 Desember 2017. 

"Tol Trans Sumatera terus dikerjakan hingga 2018, Trans Jawa hingga Banyuwangi akan tersambung. Dalam lima tahun (membangun) 1000 km jalan tol," ujarnya. 

Sugihardjo menceritakan, Indonesia telah membangun jalan tol sejak tahun 1975. Sedangkan Malaysia tahun 1985. Lalu 13 tahun setelah Indonesia membangun tol Jagorawi, China baru mulai mendirikan jalan tol.

"Paska zaman SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono), hanya 647 km jalan tol. Malaysia sudah empat ribu kilo meter (KM). China sudah banyak banget," terangnya.

Menurutnya, saat ini masyarakat dan pemerintah telah mengalami perubahan pola pikir pembangunan. Yaitu tak lagi hanya menggunakan dana APBD ataupun APBN.

Sugihardjo mengungkapkan, negara saat ini hanya mampu mendanai pembangunan infrastruktur sebesar 30 persen. Sedangkan 70 persennya diharapkan berasal dari investor swasta. 

Karena itu, pihak swasta terus didorong untuk berinvestasi di bidang infrastruktur. Berbagai fasilitas dan insentif pun disiapkan. "Jadi investasi dibuka seluas-luasnya untuk pembangunan infrastruktur negara. Jadi kita harus cari pembiayaan kreatif, tapi kendali (pembangunan) ada di kita. Sesuai Nawacita, membangun Indonesia dari pinggiran.” (mus)