Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 Desember 2017 | 11:59 WIB
  • Menkeu: Teknologi Harus Dimanfaatkan Atasi Ketimpangan

  • Oleh
    • Dusep Malik,
    • Fikri Halim
Menkeu: Teknologi Harus Dimanfaatkan Atasi Ketimpangan
Photo :
  • VIVA.co.id/Fikri Halim
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati

VIVA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengingatkan, teknologi memiliki potensi dan tantangan bagi perekonomian Indonesia dan global. Kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas.

Menurut dia, pengembangan teknologi juga sangat penting bagi perekonomian dalam negeri, agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan tentunya mengatasi kemiskinan serta ketimpangan.

Untuk itu, Ani panggilan akrab Sri Mulyani menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai jawaban atas tantangan perubahan teknologi yang semakin cepat.

"Bagaimana kami sebagai policy maker merespons perubahan teknologi ini untuk meng-address risiko kesenjangan antarsektor, kelompok ekonomi dan karena teknologi digital divide," ujar Ani di JCC, Jakarta, Kamis 7 Desember 2017.

Ia menjelaskan, di kota besar teknologi bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk mengatasi ketimpangan. Misalnya saja, pengembangan sektor transportasi berbasis aplikasi. Ini membuat kompetisi di Kota Jakarta, misalnya menjadi lebih dinamis.

"Di Jakarta, teknologi membuat hidup lebih baik ada Go-jek, Grab. Membuat, dinamisnya kompetisi," ujar dia dalam Annual International Forum on Economic Development and Public Policy (AIFED).

AIFED merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan atas kerja sama Kementerian Keuangan dengan Pemerintah Australia melalui Australia Indonesia Partnership for Economic Governance (AIPEG), dan Asian Development Bank, serta dukungan dari Asian Development Bank Institute.

AIFED menghadirkan pembicara terkemuka yang berlatar belakang akademisi dari institusi internasional. Untuk tahun ini, dua keynote speaker yang dihadirkan adalah Prof. Kaushik Basu dari Cornell University dan Prof. Ricardo Hausmann dari Harvard Kenedy School of Government. Acara ini digelar selama dua hari, 7-8 Desember 2017.

"Kami harap dalam dua hari meeting ini, kami akan dapat pemikiran bagaimana suatu system policy. Jadi, pemerintah bisa belajar," tutur Sri Mulyani. (art)