Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 7 Desember 2017 | 14:20 WIB
  • Bos MarkPlus Ungkap Hal yang Buat Pebisnis Pesimis di 2018

  • Oleh
    • Raden Jihad Akbar,
    • Syaefullah
Bos MarkPlus Ungkap Hal yang Buat Pebisnis Pesimis di 2018
Photo :
  • youtube.com
Hermawan Kartajaya

VIVA – MarkPlus, Inc menggelar The 12th Annual Markplus Conference 2018, dengan mengangkat di The Ritz Carlton Jakarta, Pacifik Place, Kamis 7 Desember 2017. Konferensi pemasaran terbesar di Asia Tenggara ini mengangkat tema The Navigating the Unpredicatbles

Founder & Chairman MarkPlus, Inc, sekaligus pakar pemasaran, Hermawan Kartajaya mengatakan, The MarkPlus Conference 2018 ini memfokuskan pembahasan mengenai tren dan fenomena pemasaran yang akan terjadi di tahun depan. 

Menurutnya, 2018 merupakan tahun yang sulit diprediksi dan membuat pebisnis pesimis. Pertama, karena sudah memasuki tahun politik Pemilihan Kepala Daerah 2018 dan Pemilihan anggota legistlatif dan pemilihan presiden 2019. 

Kedua, adanya pengaruh negatif teknologi yang dianggap telah menghancurkan beberapa perusahaan di Indonesia. Dan, yang ketiga, perkembangan ekonomi yang sulit untuk ditebak.

"Ada yang berpendapat lebih baik, ada juga yang mengatakan bahwa bisa terjadi krisis sepuluh tahun," kata Hermawan. 

Karena itu, dia mengatakan, 2018 bisa bisa distilahkan adalah tahunnya Volatility, Urcertainity, Complexecity and Ambiuguity (VUCA). Untuk itu, pelaku usaha harus memiliki strategi yang baik untuk tetap berkembang. 

"Intinya, begitu banyak hal yang tidak dapat diketahui pasti dan ada begitu banyak dinamika seperti situasi peperangan," katanya. 

Dia menambahkan, untuk menghadapi situasi yang sekarang, maka diperlukan alat yang dinamakan entrepreneurial marketing compass. Alat itu merupakan kombinasi antara marketing, finance, dan entrepreunership.

"Financial compass bagaikan dash-board yang menunjukkan situasi fundamental dan future korporasi kita. Apakah kita punya masalah balance sheet, karena aset yang tidak produktif, income statement karena operasi yang merugi, cash flow karena uang defisit, atau karena market cap kurang bagus, sehingga tidak ada investor yang berminat," katanya.

Kemudian, kata dia, setelah mengetahui permasalahan keuangan, maka selanjutnya menggunakan marketing compass untuk mengetahui lanskap persaingan bisnis. Sehingga, dalam melakukan evaluasi, lebih kepada strategy, tactic dan value. 

"Yang terakhir, organizational canvas. Di mana, organisasi harus punya keseimbangan antara profesi, produktif, kreatif dan enterpreneur," katanya.