Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 16 Mei 2017 | 14:03 WIB
  • PMII dan Tenun Kebangsaan

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Miftahul Aziz
PMII dan Tenun Kebangsaan
Photo :
Miftahul Aziz, alumni PMII Jogja.

VIVA.co.id – Pasca reformasi bergulir, organisasi gerakan ekstra kampus menjadi gerbong penggerak reformasi. Termasuk Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang memiliki tantangan yang tidak mudah. Bahkan, tidak sedikit yang sudah kehilangan ruang gerak dan tidak mampu melakukan regenerasi internal. Hal tersebut disebabkan gagal dalam merespon perkembangan kehidupan. Dampaknya jelas, tidak mampu mengambil pilihan model gerakan yang berkontribusi nyata terhadap kehidupan bernegara.

PMII sebagai organisasi yang lahir dan besar dengan kultur Nahdlatul Ulama (NU). NU merupakan organisasi keagamaan yang memiliki kontribusi besar dalam pendirian NKRI. Dalam perjalanannya, PMII tidak hanya telah melahirkan tokoh-tokoh pemimpin besar sekaliber Mahbub Djunaidi, Zamroni, Muhaimin Iskandar, dll. Tetapi PMII juga terus konsisten menghadirkan gagasan-gagasan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan bernegara.

Kekuatan gagasan, jaringan yang luas, serta kesadaran bahwa PMII bagian tak terpisahkan dari proses sejarah itulah yang kemudian membentuk kader PMII seperti Mahbub Junaidi dan Zamroni pada zamannya mampu menjadi konsolidator gerakan perubahan. Saat ini, seperti Abdul Muhaimin Iskandar atau biasa disapa Cak Imin adalah salah satu tokoh PMII yang selalu menelurkan gagasan-gagasan segar kapan dan dimanapun memimpin.

Disadari atau tidak, kepemimpinannya mampu menjadi katalisator kekuatan NU-PKB. Watak konsolidator kader PMII menjadi lebih kuat karena ditopang dengan kekuatan ide dan gagasannya yang matang. Ciri khas tersebut yang kemudian menjadi daya imun PMII tetap bisa survive di tengah kehidupan bernegara yang dinamis.

Dalam konteks keislaman, komitmen PMII terhadap Ahlissunah wal Jama’ah An-Nahdliyah tidak bisa diragukan lagi. Bahkan PMII menjadi organisasi kepemudaan yang menjadi penjaga sekaligus konsisten melestarikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Islam yang ramah dan memiliki pandangan dan sikap final terhadap bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pandangan ini sejalan dengan NU yang dalam sejarah menjadi embrio lahirnya PMII.

Sebagai gerakan mahasiswa Islam, dalam konteks keindonesiaan terlebih pasca reformasi seiring dengan masifnya gerakan Islam transnasional, peran PMII semakin dibutuhkan. Bagaimanapun, gerakan transnasional  dengan paham radikalisme, cenderung anti negara dan menggerogoti nasionalisme rakyat. Cita-cita mendirikan Khilafah Islamiyah sudah mulai marak di kampus dan penguasaan masjid sebagai tempat membangun jaringannya.

Yang demikian menjadi tantangan yang harus direspon serius oleh PMII. Mengingat basis utama PMII adalah kampus dengan beragam latar belakang mahasiswa di dalamnya. Jaringan PMII yang luas di kampus-kampus harus mampu berperan aktif dalam menangkal dan menanggulangi berkembangnya kelompok-kelompok radikal yang menjadikan pemuda (mahasiswa) sebagai sasaran utamanya.

Lebih dari itu, kenyataan perkembangan di dunia, tidak sedikit negara-negara lain mengalami masalah dalam menangkal berkembangnya kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan agama. Hal ini juga harus menjadi perhatian PMII sebagai salah satu organisasi kemahasiswaan yang terbesar, yang secara istiqamah melahirkan ratusan ribu kader setiap tahunnya.

Watak konsolidator kader PMII sudah seharusnya responsif terhadap isu-isu global. Terlebih pada isu radikalisme agama yang faktanya sangat erat kaitannya dengan pemuda. Sudah semestinya PMII bisa hadir menawarkan solusi dengan mampu mengemas Islam yang rahmatan lil ‘alamin dalam kehidupan bernegara dengan kemasan khas pemuda.

Artinya, watak konsolidator yang ditopang dengan kekuatan ide dan jaringan yang luas, baik struktur, kader maupun alumni, penulis yakin PMII mampu menjadi referensi dan teladan dari cara pandang dan kerja pemuda tidak hanya pada level Asia, Timur Tengah atau Eropa tetapi lebih luas.

PMII harus meyakinkan dunia bahwa Islam-lah alasan kuat kita untuk harus tetap menjaga kerukunan dan keutuhan bernegara. Dan, Islam Indonesia yang mengakar pada tradisi dan budaya masyarakat dengan wajah yang ramah, toleran dan progresif sudah membuktikan itu semua. Selamat berkongres yang XIX PMII, pembela bangsa, penegak agama. (Tulisan ini dikirim oleh Miftahul Aziz, Alumni PMII Jogja)