Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 19 Mei 2017 | 12:41 WIB
  • Saat Penulis Enggan untuk Menulis

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Ridho Adha Arie
Saat Penulis Enggan untuk Menulis
Photo :
  • http://ciomasonline.com
Ilustrasi penulis.

VIVA.co.id – Pagi ini aku terbangun dalam keadaan kurang sehat. Mungkin ini karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu malamku dengan begadang di depan notebook sambil menulis cerita. Ya, namanya juga penulis, pasti sering menulis. Namun, bagaimana jika ketika seorang penulis enggan untuk menulis? Sudah pasti penulis itu tidak akan bisa berkarya dan bercerita. Begitu juga aku.

Aku memang belum memiliki satu pun buku. Bahkan ceritaku tidak ada satu pun yang sukses menjadi buku, terbit saja tidak. Tapi aku memiliki profesi sebagai blogger dan penulis bayangan. Penulis bayangan bisa diartikan adalah penulis yang tidak memiliki penghasilan tetap. Bahkan keberadaannya pun tidak diketahui oleh banyak orang.

Berbeda seperti Raditya Dika yang merupakan penulis terkenal, bukan penulis bayangan. Penghasilannya pun sudah cukup untuk menghidupi diri dan keluarganya. Jujur, aku juga ingin seperti Raditya Dika. Dialah motivator dan inspirasiku untuk menjadi seorang penulis.

Aku lebih suka menulis cerita yang bertemakan tentang perjuangan. Bukan hanya perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dan melawan penjajah, tapi cerita semacam perjuangan seseorang dalam menggapai apa yang diinginkannya.

Hampir setiap malam aku menulis dan sudah berlembar-lembar halaman yang aku tulis. Bahkan aku sampai melupakan waktu tidur dan kena marah karena bangun kesiangan. Ditambah lagi cerita ini kutulis ketika aku sedang dalam keadaan kurang sehat.

Beberapa hari ini aku selalu kena marah dan omel dari keluarga, termasuk ibuku. Ibu bahkan sampai melarangku untuk begadang dan menulis cerita lagi. Katanya, itu hanya akan membuatku jatuh sakit karena melupakan waktu istirahat.

Ingin kuikuti perkataan ibuku, tapi aku sudah terlalu mencintai sastra. Semuanya akan aku lakukan sampai akhirnya aku bisa membuat bangga kedua orangtua dan keluargaku. Dengan bakat bisa merangkai kata-kata dan tekad yang kuat, aku terus menulis tanpa memperhatikan kesehatanku yang semakin memburuk. Pantas saja aku tidak gemuk-gemuk, pasti karena aku suka begadang. Walaupun hasilnya tetap gagal, tapi aku terus berusaha tanpa kenal lelah.

Tekadku untuk membahagiakan kedua orangtua sangatlah kuat, sama kuatnya seperti aku mencintai cinta pertamaku. Bahkan sampai sekarang aku pun masih mencintainya walaupun dia sudah menikah dan mempunyai anak. Karena saking cintanya, aku masih selalu bermimpi bisa menikah dan hidup bahagia dengannya.

Saat ini bisa dikatakan aku sedang malas menulis. Bukan karena sedang tidak memiliki ide untuk menulis cerita lagi, tapi karena keadaan fisik yang sedang tidak mendukung. Ditambah lagi dari segi peralatan yang sama sekali tidak mendukung.

Kalau aku yang merupakan penulis low budget saja enggan untuk menulis, bagaimana dengan penulis lainnya yang sudah memiliki segala yang dibutuhkannya? Walaupun saat ini aku sedang dilanda kemalasan dan kekurangan peralatan untuk mengetik dan berkarya, tapi aku tidak menyerah begitu saja.

Tiada kata menyerah di dalam kamusku. Apalagi aku seorang pemula yang sudah beruntung karena sudah memenangkan dua kali perlombaan menulis artikel. Bukannya aku ingin sombong, tapi aku menyadari kemenanganku adalah hasil dari kerja keras dan usahaku selama ini. Tidak bisa terkenal pun tidak apa-apa, asalkan aku bisa terus bercerita, bercerita dan bercerita. (Tulisan ini dikirim oleh Ridho Adha Arie, Pekanbaru)