Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 20 Juni 2017 | 12:21 WIB
  • Hidup dalam Keterbatasan, Pemulung Ini Tetap Bersyukur

  • Oleh
    • Elly Herawati,
    • Sinta Guslia
Hidup dalam Keterbatasan, Pemulung Ini Tetap Bersyukur
Photo :
Bapak Arwani saat menerima bantuan.

VIVA.co.id – Arwani, mungkin sebagian dari Anda pernah mendengarnya. Seorang pria tua yang hidup di tanah sewaan seharga Rp600 ribu per tahun yang berada di Kampung Sinar Labah, RT 06 LK 02 Desa Sumur Putri, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung. Di tanah itu, dia mendirikan tempat  berteduh dari panas dan hujan.

Dinding-dindingnya terbuat dari sisa-sisa kayu keranjang buah, dan spanduk sebagai atap dan sekat ruangan. Ada tiga ruangan di rumahnya. Ruang tidur, ruang tamu, dan ruang dapur yang semuanya hanya dibatasi spanduk yang sudah terbuang di jalanan.

Meski dalam keterbatasan, namun Arwani merasa dirinya tidak terbatas. Matanya tak melihat sebelah, namun cara pandang dalam menyikapi hidup pun tak pernah memandang sebelah. Dia selalu bijak menjalankan kehidupan. Seluruh hidupnya dia abdikan untuk Tuhan, keluarga, dan masyarakat sekitarnya.

Sehari-hari dia menjadi seorang pemulung. Ke sana ke mari mencari  barang-barang bekas yang kadang tercecer di jalanan karena tidak disiplinnya masyarakat dalam membuang sampah. Penghasilan Arwani tak seberapa, namun dia selalu mensyukurinya. Karena baginya harta adalah titipan dari Sang Maha Kuasa.

Kerja kerasnya hanya cukup untuk makan ketiga buah hatinya, namun tak pernah cukup untuk menyekolahkan mereka. Anak-anaknya harus puas hanya bersekolah sampai tingkat SMP saja. Arwani mengubur mimpinya sebagai ayah yang ingin melihat anaknya bersekolah sampai tinggi.

Dia tidak menyerah. Meski tak mampu menyekolahkan anaknya, tapi dengan ilmu agama yang dimilikinya dia justru bertekad membantu masyarakat di sekitarnya untuk memiliki ilmu dan lebih mengenal Islam. Karena setelah cukup lama dia diam, masyarakat di sana ternyata masih awam tentang ilmu agama. Maka sesekali dia menjadi pengajar, dan sesekali dia sebagai pemimpin tahlilan.

Seringkali Arwani melewati Rumah Yatim Tanjung Karang Lampung untuk memungut beberapa gelas plastik atau semacamnya. Dari sana Welly pun mengenal beliau. Dan akhinya memberanikan diri untuk bertanya seputar dirinya, keluarganya, juga berani memberikan nasi dan lauknya jika Arwani melewati asrama. Pria paruh baya itu pun selalu menerimanya dengan rasa syukur.

Dengan seringnya pertemuan, Welly pun akhirnya bersilaturahmi ke rumah beliau. Dan demikianlah kondisi rumah beliau yang jauh dari kata layak. Namun sekali lagi, Arwani selalu mensyukuri apa yang dia miliki. Pertemuan dengan keluarga beliau membuat Welly ingin memberikan perhatian lebih dengan memberikan santunan biaya hidup, agar keluarganya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Arwani tak pernah lupa lingkungan sekitarnya. Pria yang saat memungut rongsokan sangat terlihat penuh dengan peluh, namun saat dia memipin pengajian sosok yang penuh peluh itu akan berubah drastis menjadi sosok yang penuh karisma dengan koko yang sederhana dan terawat.

Di sana di kampung Arwani, dia tak sendirian dalam keterbatasan. Ada sekitar 100 warga yang nasibnya hampir serupa. Maka, saat Rumah Yatim tanggap terhadapnya, Arwani pun memberanikan diri untuk datang dan meminta bantuan sembako untuk warga di sekitarnya. “Saya ingin bukan hanya saya saja yang mendapat bantuan, tapi warga di sekitar saya pun bisa turut merasakannya,” paparnya. (Tulisan ini dikirim oleh Sinta Guslia)