Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 21 April 2017 | 18:55 WIB
  • Dikritik, Turis Indonesia di Jepang Malas Beresin Sampah

  • Oleh
    • Lazuardhi Utama
Dikritik, Turis Indonesia di Jepang Malas Beresin Sampah
Photo :
  • Facebook Tyas Palar
Meja di resto bandara Jepang yang ditinggalkan, penuh peralatan bekas makan.

VIVA.co.id – Seorang warga Indonesia yang tinggal di Jepang, Tyas Palar, mengritik perilaku orang-orang sebangsa yang kurang menghormati budaya setempat – yang terkenal rapi dan menghargai orang lain. Contohnya, orang Indonesia yang tak mau repot membereskan sampah atau peralatan makan yang mereka pakai di tempat umum – seperti bandar udara – di Jepang. 

Sebagai buktinya, Tyas menampilkan foto sebuah meja dengan peralatan bekas makan yang masih berantakan di Bandara Haneda, Tokyo. Dalam status yang diunggah ke akunnya di Facebook, Selasa 18 April kemarin, Tyas mengungkapkan meja dan peralatan makan yang kotor itu ditinggalkan begitu saja oleh penggunanya, tak lain adalah sekelompok turis asal Indonesia.

Ia menyebutkan hal itu terjadi pada sepekan sebelumnya, atau sekitar 11 April. Tyas mengisahkan, saat di Bandara Haneda, ia sedang bersama ibunya menunggu penerbangan ke Jakarta.

"Oleh karena hari masih pagi, kami beli sarapan terlebih dahulu di deretan restoran di lantai di atas dekat ruang check-in. Saya dan ibu memilih makan di deretan meja dan kursi publik, bukan bagian dari restoran mana pun," tulisnya, seperti dikutip VIVA.co.id, Jumat, 21 April 2017.

Tyas menyatakan kalau hal ini memang dibolehkan oleh pihak bandara, sehingga ia dan ibunya bisa memesan makanan dari restoran mana pun di sekitar situ dan membawanya untuk disantap di area publik.

"Di sekitar kami ada beberapa kelompok turis Indonesia yang juga sedang makan. Saya tidak begitu memperhatikan sampai saya berjalan ke salah satu restoran untuk memesankan kopi untuk ibu saya. Salah satu rombongan turis Indonesia itu telah pergi menyisakan meja yang berantakan," keluh Tyas.

Lokasi Berdekatan

Ia melanjutkan, bukannya membuang sampah sendiri dan mengembalikan baki ke restoran yang mereka pesan, tetapi malah mendiamkannya di meja. "Mungkin mereka berpikir ini seperti di Indonesia. Akan ada pelayan atau petugas yang membersihkan. Padahal tidak ada," papar dia.

Sampai lebih dari setengah jam kemudian, ketika ia dan ibu akhirnya meninggalkan tempat tersebut, tetap tidak ada petugas yang membereskan meja. Padahal, rombongan yang memakai meja itu hanya beberapa meter saja jaraknya dari tempat sampah.

Tyas menambahi tulisannya dengan cerita seorang temannya yang juga asal Indonesia kuliah sekaligus bekerja sebagai pramusaji, mengeluh dengan kebiasaan buruk seperti itu.

"Yang seperti ini nih paling merepotkan. Bikin lama, karena pelayan harus membereskan dulu ke atas baki. Calon orang yang duduk berikutnya juga kesulitan hanya untuk sekadar meminggirkan atau memindahkan baki-baki itu. Karena, kalau pun baki dipinggirkan tetap ada sampah yang bertebaran di atas meja," ujarnya.

"Ujian" tak berhenti sampai di situ. Tyas kemudian menemukan langsung dua pria Indonesia yang melakukan hal yang sama. Ia memperkirakan sudah berumur, yang seharusnya bukan seperti anak kecil lagi yang masih harus diajari.

Mereka rupanya mau pindah ke meja lain di mana temannya, seorang perempuan, duduk. Seorang di antaranya berdiri lalu melangkah menjauh meninggalkan serpihan sampah berupa robekan kertas pembungkus sedotan, bon, dan entah apa lagi di atas mejanya.

Calon turis “Mainland”

Saya panggillah dia, “Mas, tempat sampahnya di sana.”

Dia berputar menghadap saya, dengan senyum mengejek berkata, “Terus kenapa? Nanti juga ada yang beresin!”

Tyas pun kaget mendengar perkataan itu. "Mereka itu laki-laki dewasa. Punya uang untuk jalan-jalan ke Jepang, bereaksi begitu!"

Tapi Tyas tidak mau kalah. Ia tetap mendesak pria itu untuk mengambil seluruh sampah yang ditinggalkan dan membuangnya di tempat yang semestinya.

"Nggak ada yang beresin. Lihat itu dari tadi meja-meja itu nggak ada yang beresin!" Karena ada ibu, saya masih tahan untuk berkata-kata yang ingin saya "tembak" kepadanya.

Akhirnya ia kalah, memunguti dan membawa seluruh sampahnya namun dengan wajah tidak rela. "Lalu pindah ke meja mana kedua pria itu? Ke meja dekat tempat sampah! Kok, ya tadi mau bawa sampah sendiri saja susah betul padahal pindahnya ke situ. Benar-benar bikin malu," katanya dengan geram.

Tyas tak habis pikir mengapa banyak orang Indonesia, kelas menengah dan berduit, susah sekali tertib. Padahal, tertib itu sesungguhnya memudahkan diri sendiri dan orang lain.

"Sering menghina atau menertawakan turis Mainland (China) yang kelakuannya "barbar"? Awas! bisa-bisa turis kitalah yang menjadi "turis Mainland" berikutnya. Jorok dan tidak tahu aturan," tutur Tyas, mengingatkan.

Yuk, tetap menjaga ketertiban dan kebersihan di mana pun kita berada. Jangan tunggu ke negara lain baru tertib dan taat aturan! (ren)