Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 15 Juni 2017 | 12:06 WIB
  • Kejamnya Penjara Korea Utara, Hancurkan Mental Tahanan

  • Oleh
    • Ezra Natalyn
Kejamnya Penjara Korea Utara, Hancurkan Mental Tahanan
Photo :
  • Amnesty/BBC.com
Peta area kamp tahanan politik Korea Utara

VIVA.co.id – Korea Utara dilaporkan masih menahan banyak orang di tahanan politiknya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Tak jarang Korea Utara juga menahan warga negara asing dengan tudingan propaganda atau mengambil informasi negara itu secara ilegal.

Sebagaimana dilansir BBC dan pernah diirilis Amnesty International, banyak eks tahanan Korea Utara (Korut) yang bahkan masih mengalami trauma psikologis berkepanjangan dan tak bersedia memberikan testimoni kejamnya hidup di tahanan politik negeri Kim Jong-un itu.

Terakhir, Korea Utara akhirnya membebaskan Otto Warmbier, mahasiswa Amerika Serikat yang dihukum 15 tahun kurungan dan akhirnya dipulangkan ke AS dalam keadaan koma.

Mantan tahanan Korea Utara, Kenneth Bae, yang merupakan warga AS namun berdarah Korea Selatan, memberi kesaksian pada saat ditahan bertahun-tahun di kamp tahanan politik Korut.

Bae ditahan pada tahun 2012 dengan tuduhan melawan Republik Korea. Bae padahal sudah beberapa kali berkunjung ke Korut untuk tujuan misionaris agama. Dia ditangkap dengan bukti buku-buku Kristen di dalam tasnya.

Bae lalu dijatuhi hukuman penjara 15 tahun. Dia mengatakan, selama sebulan awal, dia terus diinterogasi petugas sejak pukul 06.00 pagi hingga pukul 22.00 dan 23.00 setiap malam. Dia juga dipaksa menuliskan pengakuan bersalah di ratusan lembar kertas.

Enam hari dalam sepekan, dia harus bekerja di perkebunan dan selain itu mengangkat batu, pula bekerja paksa di tambang batu bara. Dalam dua tahun, Bae mengaku kehilangan bobot badan hingga 27 kilogram yang membuat fisiknya lemah.

Secara psikologis, Bae mengatakan sangat hancur karena dia juga kerap diisolasi. Hingga akhirnya dia sakit parah dan dibebaskan Korut. Laki-laki tersebut mengatakan, dia memang tak sering mendapatkan kekerasan fisik, namun isoloasi dan kerja paksa berat menekan mentalnya.

"Mereka selalu bilang kepada saya, kini tak ada lagi yang mengingat saya dan negara saya tak akan peduli kepada saya. Saya merasa seperti serangga saja yang tak bisa berbuat apa-apa," kata Bae dengan pilu. (one)