Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 13 Juli 2017 | 16:29 WIB
  • Derita Anak Pengungsi, Kerja 13 Jam Sehari Dibayar Cekak

  • Oleh
    • Ezra Natalyn,
    • Dinia Adrianjara
Derita Anak Pengungsi, Kerja 13 Jam Sehari Dibayar Cekak
Photo :
  • REUTERS/Hassan Abdallah
Anak-anak pengungsi Suriah di Libanon

VIVA.co.id – Anak-anak yang berhasil melarikan diri dari konflik di Suriah terpaksa bekerja selama 13 jam dalam sehari di negara tempat tinggal baru mereka.

Mirisnya, anak-anak itu hanya dibayar sebesar £2 atau setara Rp36.000 per hari. Jutaan pengungsi anak di negara-negara seperti Yordania dan Libanon juga harus menghabiskan hidup mereka melakukan pekerjaan yang melelahkan untuk memenuhi kebutuhan. Sementara negara-negara penerima juga berjuang untuk mengatasi ribuan orang yang membutuhkan pekerjaan dan pendidikan.

PBB memperkirakan bahwa lima juta orang Suriah mencari perlindungan di negara-negara tetangganya sejak perang dimulai lebih dari enam tahun yang lalu.

Sementara di Yordania, ada lebih dari 660 ribu pengungsi terdaftar dari Suriah dan 330 ribu di antaranya adalah anak-anak di bawah usia 18 tahun. Di antara mereka, 103 ribu di antaranya berusia lebih muda dari lima tahun.

Laura Ouseley, salah satu petugas badan amal pengembangan CAFOD, menghabiskan waktu bersama salah satu keluarga di Amman, Ibu Kota Yordania. Dia menceritakan seorang anak bernama Ahmed yang berusia 12 tahun yang menjadi satu-satunya pencari nafkah di keluarganya.

"Ketika saya mengunjungi rumahnya, dia sedang bekerja shift 13 jam yang melelahkan sebagai pembersih di sebuah toko buku. Dia melakukannya tujuh hari dalam seminggu," ujar Laura seperti dikutip Metro, Kamis 13 Juli 2017.

Selain itu ia mengatakan, lebih dari 400 ribu pengungsi anak-anak Suriah di Yordania tidak mendapatkan pendidikan sama sekali. Anak-anak tersebut kehilangan bagian penting dalam perkembangan mereka dan kesempatan untuk bersosialisasi. Laura menjelaskan bahwa orang tua dari Suriah berusaha mati-matian untuk menjaga anak-anak mereka tetap bersekolah. Akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil.

"Setelah lolos dari ngerinya perang di Suriah, anak-anak seharusnya tidak mengorbankan pendidikan mereka. Memastikan mendapat tempat di sekolah. Ini memerlukan sistem yang fleksibel," ungkap Laura.