Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Kamis, 10 Agustus 2017 | 13:59 WIB
  • Pendapat Pejabat AS Soal Ancaman Korut Terpecah

  • Oleh
    • Endah Lismartini
Pendapat Pejabat AS Soal Ancaman Korut Terpecah
Photo :
  • REUTERS/Carlos Barria
Presiden AS, Donald Trump.

VIVA.co.id – Dua pejabat senior di pemerintahan Trump, Rex W.Tillerson dan Jim Mattis, memberikan pernyataan berbeda soal ancaman serangan Korea Utara. Sekretaris Negara Rex W.Tillerson menekankan diplomasi dan tetap berusaha meyakinkan rakyat Amerika bahwa mereka masih bisa "tidur nyenyak di malam hari."

Sementara Menteri Pertahanan Jim Mattis mengatakan, saat ini Korea Utara sedang mempertaruhkan akhir rezimnya dan penghancuran rakyatnya, jika mereka tidak bersedia "merendah."

Ketegangan antara dua negara ini memburuk dalam beberapa pekan terakhir. Uji coba rudal Korea Utara yang terus dilakukan bisa jadi membuat resah Presiden AS Donald Trump.

Melalui cuitan terakhirnya, Trump menantang Korea Utara dengan mengatakan negara tersebut akan berhadapan dengan "api dan kemarahan" yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Komentar Trump dibalas Korea Utara dengan pernyataan bahwa Pyongyang sudah siap meluncurkan empat rudal balistik mereka ke wilayah Guam pada pertengahan Agustus ini.

Kepada wartawan di AS, Tillerson yang baru pulang dari kunjungannya di Asia mengatakan, ia tak melihat alasan apa pun untuk percaya bahwa perang mungkin terjadi. Ia mendesak Korea Utara untuk berbicara soal program nuklir mereka.

"Saya rasa rakyat Amerika masih bisa tidur nyenyak setiap malam, tak perlu khawatir dengan perang retorik yang terjadi selama beberapa hari ini," ujarnya seperti dikutip dari New York Times, 9 Agustus 2017.

Pernyataan itu disampaikan Tillerson saat pesawatnya sedang mengisi bahan bakar di Guam, wilayah yang diancam akan menjadi sasaran serangan awal Korea Utara. "Saya tak melihat dan tak tahu apa saja yang bisa menjadi indikasi bahwa situasi ini akan menjadi dramatis hingga 24 jam ke depan," dia menegaskan.

Menurutnya, apa yang dilakukan oleh Donald Trump adalah hal sederhana yang ia yakin lebih mudah ditangkap oleh Kim Jong-un. "Apa yang Presiden lakukan adalah mengirim pesan kuat kepada Korea Utara dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh Kim Jong-un, sebab ia sepertinya terlihat tak memahami bahasa diplomatik," komentar Tillerson.

Namun beberapa jam setelah Tillerson berbicara, Mattis mengeluarkan pernyataan tertulis yang menegaskan bahwa AS masih membuka kemungkinan melakukan pembalasan massal yang bisa menghancurkan sebagian besar wilayah Korea Utara.

"Ketika Kementerian Luar Negeri mengerahkan seluruh upaya mereka untuk mencari penyelesaian ancaman global ini melalui jalur diplomatik, harus juga dicatat bahwa saat ini gabungan militer sekutu memiliki kemampuan pertahanan dan serangan yang paling tepat, terlatih, dan tertangguh di muka bumi," ujarnya.

"Militer Korea Utara akan terus tertinggal oleh kita, dan mereka akan kehilangan banyak senjata jika konflik ini diteruskan," ujarnya menambahkan.

Ia mengingatkan Korea Utara akan solidaritas internasional melawan Korea Utara. "Korea Utara harus berhenti mengisolasi dirinya, dan menurunkan kehendak mereka untuk terus mengembangkan senjata nuklir," ujarnya.

Menurut The New York Times, sikap penasihat presiden dalam pernyataan mereka menanggapi ancaman serangan dari Korea Utara ini, jika bukan kontradiksi langsung, menunjukkan sudut pandang yang berbeda.

Sikap berbeda dua pejabat tersebut disesalkan oleh Evan Medeiros, Direktur Utama Eurasia Group dan mantan penasihat Presiden Obama untuk wilayah Asia. "Sangat jelas bahwa tidak ada strategi koordinasi. Ini harusnya disatukan secara bertahap dengan seluruh wilayah. Karena risikonya akan sangat tinggi jika salah berhitung," ujar Evan.

Sedangkan Ellen L.Frost, seorang peneliti spesialis masalah Asia dari East-West Centre yang berbasis di Honolulu, mengatakan tak melihat ada satu-pun kebijakan yang berjalan. "Saya bahkan tak yakin, Trump peduli untuk memiliki kebijakan yang konsisten dalam satu hal," kata Ellen. (ase)