Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 13 September 2017 | 15:20 WIB
  • Halimah Yacob Jadi Presiden Singapura Tuai Kontroversi

  • Oleh
    • Ezra Natalyn
Halimah Yacob Jadi Presiden Singapura Tuai Kontroversi
Photo :
  • REUTERS/Edgar Su
Halimah Yacoob, perempuan muslimah presiden baru Singapura.

VIVA.co.id – Keputusan yang diambil Komite Pemilihan Presiden yang meloloskan Halimah Yacob sebagai kandidat tunggal calon Presiden Singapura dan memastikan dia menjadi Presiden Singapura berikutnya masih menuai kontroversi.

Tak sedikit yang menyesalkan keputusan Komite tersebut yang hanya meloloskan satu calon dan menggagalkan dua calon Presiden lainnya. Dengan hanya ada calon tunggal, pemilihan presiden di Singapura yang sedianya berlangsung pada 23 September 2017 mendatang tak perlu dilakukan.

Diketahui bahwa Komite Pemilihan Presiden tak meloloskan dua calon lainnya yaitu Salleh Marican dan Farid Khan. Alasannya, kedua pebisnis tersebut tak memiliki syarat jumlah kekayaan yang cukup yaitu sekitar S$500 juta. Namun, Halimah lolos, bukan karena syarat harta melainkan karena dia merupakan mantan Ketua Parlemen.

Halimah Yacob merupakan Presiden perempuan pertama di negara yang mayoritas berpenduduk keturunan China tersebut. Dia juga berasal dari ras Melayu setelah 47 tahun terakhir kali negeri itu tak dipimpin oleh orang Melayu.

Meskipun jabatan Presiden tidak sebesar pengaruh Perdana Menteri di pemerintahan Singapura, namun dipilihnya Halimah tetap mengundang kontroversi.

Dilansir BBC, warga Singapura khususnya melalui media sosial banyak yang menekankan bahwa Halimah adalah Presiden yang 'selected' artinya hanya dipilih oleh Komite dan bukan oleh warga Singapura atau 'elected'. Selain itu muncul tagar #NotMyPresident sebagaimana tagar yang pernah muncul di Pemilu AS usai Presiden Donald Trump terpilih.

Sebagian masyarakat Singapura juga menilai bahwa keterpilihan Halimah yang menang hanya karena calon tunggal tidak punya legitimasi yang kuat karena bukan dipilih rakyatnya.

Diketahui bahwa Singapura sebelumnya melakukan amandemen sistem Pemilu presidennya. Pemilihan presiden diputuskan berdasarkan ras khususnya calon dari ras yang tidak menjabat selama periode waktu setidaknya lima tahun. (one)