Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 3 Oktober 2017 | 23:36 WIB
  • Cara Singapura Merehab Warga yang 'Kecanduan' Radikalisme

  • Oleh
    • Renne R.A Kawilarang
Cara Singapura Merehab Warga yang 'Kecanduan' Radikalisme
Photo :
  • Kementerian Komunikasi dan Informasi Singapura
Salim Mohamed Nasir (tengah), relawan dari Grup Rehabilitasi Relijius Singapura, saat menerima kunjungan delegasi jurnalis Indonesia, Selasa 3 Oktober 2017.

VIVA.co.id – Pemerintah Singapura punya cara yang efektif untuk menangkal ekstremisme ataupun radikalisme dalam rangka mencegah munculnya bibit-bibit teroris di negaranya. Cara ini tidak harus selalu menerapkan pendekatan yang koersif atau memenjarakan warga yang dicurigai dalam terorisme, namun melalui pendekatan deradikalisasi yang manusiawi untuk mengarahkan mereka kembali ke jalan yang benar.

Demikian menurut Deputi Perdana Menteri merangkap Menteri Koordinator Keamanan Nasional Singapura, Teo Chee Hean. Dia mengungkapkan pemerintah tidak ingin terus-menerus memenjarakan warganya yang dicurigai terlibat ekstremisme dan terorisme, selama yang bersangkutan dinilai masih bisa disadarkan.

“Kami justru ingin melepaskan mereka [dari tahanan] dan membawa mereka kembali ke tengah-tengah masyarakat, melalui suatu program deradikalisasi yang juga melibatkan masyarakat.  Program ini dikenal sebagai Grup Rehabilitasi Relijius atau RRG (Religious Rehabilitation Group),” kata Teo saat menerima kunjungan sejumlah media massa dari Indonesia hari ini.

Program ini dipandang efektif untuk mengatasi sekaligus menangkal bibit-bibit ekstremisme dan terorisme di Singapura. Melibatkan para ulama dan cendekiawan Muslim, RRG berupa layanan konseling bagi warga yang bermasalah sekaligus membantu keluarga mereka.

“Selain program RRG, Majelis Ulama Islam Singapura (MUIS) juga telah membentuk jaringan untuk melatih para ustaz dan kaum muda dalam memberikan konseling dan deradikalisasi,” kata Teo. Pengurus dan relawan Program RRG, Salim Mohamed Nasir, mengungkapkan langkah-langkah yang dilakukan pihaknya dalam menanggulangi idelogi ekstremis.  

“Para konselor meluruskan nilai-nilai agama yang disalahartikan oleh penyebar ekstremisme. Lalu mereka memasukkan pemahaman yang benar dari ajaran agama itu, dan selanjutnya mempromosikan integrasi dan kehidupan yang harmonis dalam masyarakat yang multi-ras dan multi-kepercayaan ini,” kata Salim, yang juga dosen di Nanyang Technological University.   

Dia membeberkan, setelah berjalan sekitar 14 tahun, program RRG sukses “menyadarkan” mereka yang sempat terjerat ekstremisme untuk kembali ke jalan yang benar. “Kaum muda relatif lebih mudah untuk disadarkan kembali melalui konseling oleh para ustaz terpilih,” lanjut Salim.

Kerja Sama Indonesia

Selain pembenahan di dalam negeri, Deputi Perdana Menteri Teo juga mengungkapkan bahwa Singapura pun terus menjalin kerja sama dengan negara-negara tetangga, termasuk dengan Indonesia.

“Kerjasama dengan Indonesia tidak saja melibatkan pendekatan keamanan, namun juga bertukar pikiran dan pengalaman dalam menerapkan program deradikalisasi. Ini mengingat Indonesia pun menerapkan pendekatan yang serupa dalam rangka menjamin keamanan dan mencegah berkembangnya radikalisme ,” kata Teo.

Deputi Perdana Menteri Singapura Teo Chee Hean

Deputi Perdana Menteri Singapura, Teo Chee Hean, saat berbincang dengan delegasi jurnalis Indonesia. (Foto: MCI)

Sebelumnya, saat berbicara di forum Majelis Umum Dewan Dakwah Islam Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik pagi tadi, Teo menegaskan bahwa program deradikalisasi yang diterapkan selama ini merupakan cara yang efektif untuk memerangi ekstremisme demi menjaga Singapura agar tetap damai dan aman. Prioritas Singapura adalah memastikan bahwa semua masyarakat dari latar belakang manapun harus bersatu untuk menanggulangi ekstremisme dan kekerasan dalam bentuk apa pun.  

“Sejumlah pemerintah, termasuk Singapura, telah mengambil sikap tegas atas ujaran-ujaran dari para rohaniwan dari agama apa pun yang bisa menciptakan keresahan di tengah masyarakat. Singapura  melarang rohaniwan yang menyuarakan eksklusivisme dan pertentangan di kalangan masyarakat dari berbagai kepercayaan,” kata Teo.