Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Rabu, 11 Oktober 2017 | 15:02 WIB
  • Kapal Destroyer AS Bergerak ke Laut China Selatan

  • Oleh
    • Endah Lismartini,
    • Dinia Adrianjara
Kapal Destroyer AS Bergerak ke Laut China Selatan
Photo :
  • REUTERS/Mike Blake
Salah satu Kapal Perang AS.

VIVA.co.id – Kapal destroyer Angkatan Laut Amerika Serikat terlihat berlayar mendekat pulau-pulau yang diklaim oleh China di wilayah Laut China Selatan. Aksi kapal AS tersebut terlihat pada hari Selasa, 10 Oktober 2017, waktu setempat.

Washington mengatakan, operasi tersebut merupakan sebuah upaya yang mereka lakukan untuk antisipasi manuver Beijing yang dalam beberapa waktu terakhir membatasi kebebasan bernavigasi di perairan tersebut. Namun hal ini dinilai tidak terlalu provokatif seperti yang dilakukan sebelumnya sejak Trump menjabat sebagai Presiden AS.

Diberitakan oleh Reuters, 10 Oktober 2017,  salah satu pejabat AS yang tak disebutkan namanya mengatakan bahwa Chafee, kapal perusak yang dipandu, melakukan operasi manuver normal yang menantang 'klaim maritim yang berlebihan' di dekat Kepulauan Paracel. Operasi ini dilakukkan di antara serangkaian pulau kecil dan terumbu karang di mana China mengklaimnya.

Tidak seperti pada bulan Agustus ketika kapal perusak AS datang dengan jarak 12 mil laut dari sebuah pulau buatan yang dibangun di China, para pejabat mengatakan bahwa kapal perusak Chafee berlayar dekat namun tidak berada dalam wilayah kepulauan tersebut.

Dua belas mil laut menandai batas teritorial yang diakui secara internasional. Berlayar dalam rentang tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak mengenali klaim teritorial.

Pentagon tidak berkomentar secara langsung mengenai operasi tersebut, namun mengatakan bahwa Amerika Serikat melakukan operasi kebebasan navigasi secara reguler dan akan terus melakukannya.

China terus menantang tindakan Amerika tersebut dengan mengatakan bahwa mereka telah merugikan kedaulatan dan keamanan China. Klaim China di Laut China Selatan di mana kapal perdagangan senilai USD 5 triliun melewatinya, juga diperebutkan oleh Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam. (ren)