Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Selasa, 7 November 2017 | 18:08 WIB
  • Soal 'Bugis,' Dubes Malaysia Sebut Mahathir Tolak Minta Maaf

  • Oleh
    • Endah Lismartini
Soal 'Bugis,' Dubes Malaysia Sebut Mahathir Tolak Minta Maaf
Photo :
  • Reuters/Claudia Daut
Mahathir Mohamad

VIVA – Duta Besar Malaysia untuk Indonesia, Zahrain Mohamed Hashim, mengaku sedih dengan jawaban yang ia terima dari mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad.  Dalam surat jawabannya, Mahathir menolak meminta maaf saat menyinggung latar belakang keluarga PM Najib Razak.

Kasus soal “Bugis” itu merebak setelah pada tanggal 14 Oktober lalu Mahathir menuduh bahwa nenek moyang Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mungkin masih ada hubungan dengan "bajak laut Bugis." Ucapan itu disampaikan Mahathir saat ia berbicara di sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh partai-partai oposisi.

Ucapan Mahathir dianggap merendahkan suku Bugis, dan menimbulkan reaksi dari warga suku Bugis di Indonesia. Diberitakan oleh Free Malaysia Today, 6 November 2017, Kedubes Malaysia mengaku meningkatkan keamanan setelah muncul reaksi keras atas ucapan Mahathir.

Ucapan Mahathir itu juga mendapat reaksi dari Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, yang mengaku merasa tersinggung. Bahkan Sultan Selangor, Sultan Sharafuddin Idris Shah, baru-baru ini juga mengungkapkan ketidaksenangan dan penyesalan atas ucapan Mahathir. Menurutnya, ucapan itu terlihat sebagai usaha untuk menghasut orang Malaysia untuk memandang rendah komunitas Bugis.

Pada 23 Oktober 2017, Dubes Malaysia untuk RI, Zahrain Mohamed Hashim, lalu melayangkan surat kepada Dr. Mahathir Mohammad. Ia meminta Mahathir mengambil tindakan yang diperlukan dan segera membersihkan kondisi atas ucapan yang ia buat.

Zahrain menyampaikan, ucapan Mahathir telah menimbulkan ketidaksenangan di antara komunitas etnis Bugis di Indonesia, sehingga kedutaan Malaysia di Indonesia harus meningkatkan langkah-langkah keamanan. Kedubes tersebut juga menerima sebuah memorandum dari Majelis Pemuda Macan Bugis Indonesia pada tanggal 20 Oktober yang menuntut agar mantan perdana menteri tersebut meminta maaf secara publik.

"(Namun) saya sedih dengan jawaban (surat) dari negarawan (sesepuh Malaysia)," kata Zahrain, seperti dikutip dari Free Malaysia Today.

Zahrain mengatakan jawaban Mahathir, dalam sebuah surat bertanggal 1 November, tidak hanya tanpa permintaan maaf, namun isi surat itu terus menjelekkan PM Malaysia Najib Razak. Dalam isi suratnya, ujar Zahrain, Mahathir juga mengatakan, bahwa seharusnya tak ada yang perlu menghasut orang Indonesia soal 'Suku Bugis.' Karena, menurut Mahathir, mereka (orang Indonesia) tidak dapat memberikan suara dalam pemilihan umum ke-14. (ren)