Download Our Application
A Group Member of VIVA

viva.co.id

  • Jumat, 10 November 2017 | 12:27 WIB
  • Sindir Intelektual Islam, Charlie Hebdo Terima Ancaman Bunuh

  • Oleh
    • Endah Lismartini
Sindir Intelektual Islam, Charlie Hebdo Terima Ancaman Bunuh
Photo :
  • Fox News
Majalah satire Charlie Hebdo, menampilkan Tariq Ramadan disampulnya.

VIVA – Penerbit majalah kartun satire Charlie Hebdo mengaku kembali menerima ancaman pembunuhan. Ancaman ini baru terdengar lagi setelah beberapa tahun reda.

Menurut penerbit majalah yang berbasis di Prancis tersebut, ancaman pembunuhan kembali mereka terima setelah sampul majalah itu menampilkan karikatur intelektual Islam Tariq Ramadan. Saat ini, Tariq sedang didera oleh tuduhan kasus kekerasan seksual yang disampaikan oleh tiga perempuan..

Charlie Hebdo sudah mengajukan komplain kepada Kejaksaan Paris, yang segera melakukan investigasi atas laporan tersebut.

Tariq Ramadan, seorang intelektual Muslim yang diadukan oleh dua perempuan yang mengaku mengalami pelecehan seksual, bahkan salah satunya diperkosa. Tariq membantah tuduhan itu, dan mengatakan dua perempuan itu adalah bagian dari kampanye mereka yang menolaknya.

Diberitakan oleh Fox News, 9 November 2017, sampul Charlie Hebdo menggambarkan Ramadan seperti 'sedang terangsang secara seksual,' dengan tulisan "Perkosaan: Tariq Ramadan Menolaknya." Gambar itu juga ditambahi tulisan, "Saya adalah pilar keenam dalam Islam." Lima pilar yang dimaksud dalam tulisan Charlie Hebdo adalah rukun Islam, yaitu syahadat, salat, puasa, zakat, dan pergi haji.

Bulan lalu, pihak berwenang Prancis membuka investigasi kepada Ramadan setelah seorang perempuan melaporkan kepada pihak berwenang Prancis di Rouen yang menuduh Ramadan melakukan kekerasan seksual, perkosaan, dan menyampaikan ancaman pembunuhan. Ramadan pernah dilarang oleh pemerintah AS di masa George W. Bush pada tahun 2004, namun Hillary Clinton menarik larangan tersebut saat ia menjabat sebagai Menlu AS pada 2010.

Majalah mingguan Charlie Hebdo pernah menjadi sasaran kemarahan kelompok ekstremis sehingga terjadi pembantaian yang menewaskan sejumlah kru redaksinya pada 2015. Serangan itu terjadi setelah majalah tersebut 'mengolok-olok nabi Muhammad melalui karikatur mereka. Akibat penembakan brutal di ruang redaksi mereka, 12 orang tewas. Insiden itu membuat dukungan internasional meluas untuk Charlie Hebdo dengan tagar #JeSuisCharlie.

Editor Charlie Hebdo, Laurent "Riss" Sourisseau mengatakan kepada radio Europe 1 bahwa mereka selalu menerima ancaman pembunuhan setelah serangan yang terjadi pada Januari 2015 lalu. Dan mereka selalu menganggap setiap ancaman adalah serius.  "Sulit untuk mengetahui mana ancaman yang serius, dan mana yang tidak, tapi sebagai prinsip, kami selalu menganggapnya serius dan menganggapnya sebagai tekanan pada media," ujarnya.

Majalah satire ini terus menerima tekanan akibat aksi mereka yang nyinyir terhadap berbagai topik dan bahasan. Topik lain yang menimbulkan kemarahan adalah ketika pada tahun 2016, mereka menggambar korban gempa Italia sebagai "olahan pasta."